Malam turun perlahan, tanpa suara peringatan. Rumah itu kembali sunyi—sunyi yang berbeda dari sebelumnya. Bukan hening yang kosong, melainkan hening yang sarat, seperti udara sebelum hujan benar-benar jatuh. Margarethe masih di loteng. Kotak peninggalan itu terbuka di hadapannya, isinya tertata rapi—foto-foto lama, pita bayi, kertas yang terlalu rapuh untuk dipaksa mengingat lebih jauh. Cahaya lampu kecil menggantung rendah, menorehkan bayang di dinding miring. Setiap bayang terasa seperti pertanyaan yang belum menemukan kalimatnya. Ia menutup mata sejenak. Di dalam dadanya, sesuatu retak—bukan pecah, bukan runtuh. Retak yang panjang, sabar, dan jujur. Dinding-dinding yang selama ini menahan dunia agar tidak masuk terlalu dalam, kini bergeser sedikit. Cukup untuk membuatnya bernapas—dan cukup untuk membuatnya takut. “Kalau semua ini benar…” suaranya keluar pelan, hampir tak terdengar, “kalau aku hanya hasil eksperimen yang selamat… lalu apa artinya hidup yang sudah kujalani?”
Terakhir Diperbarui : 2026-01-12 Baca selengkapnya