Senja menggantung rendah di langit—jingga pucat membelah awan seperti luka lama yang belum sepenuhnya menutup. Di dalam mobil, keheningan terasa lebih berat daripada kata-kata. Mesin berdengung pelan, ban memecah genangan di jalan pegunungan, dan bayangan pepohonan melintas seperti barisan saksi bisu. Leonhardt menyetir dengan rahang mengeras. Tangannya mantap di kemudi, tapi pikirannya jelas tidak setenang itu. Adelheid duduk di kursi depan, memeluk lengannya sendiri. Biasanya ia akan mengoceh tentang apa saja—tentang salju, tentang radio yang tak menangkap sinyal, tentang betapa tidak adilnya dunia. Tapi kali ini ia diam. Di kursi belakang, Margarethe menyandarkan kepala ke jendela. Kaca dingin menempel di pelipisnya, seolah mencoba menahan sesuatu agar tidak pecah. “Kita harus bergerak cepat,” ujar Leonhardt akhirnya, memecah sunyi. “Friedrich tidak akan berhenti hanya karena kita menolak.” Adelheid menoleh sedikit. “Kau pikir dia akan mengirim orang?” “Atau me
Terakhir Diperbarui : 2026-01-27 Baca selengkapnya