"Kak, tenang. Kita berdoa saja, dia... selamat." Miko memeluk Febi erat. Meskipun ia belum mengenal Langga, Miko bisa melihat betapa ketakutan kakaknya saat ini. Laki-laki itu jelas bukan orang biasa bagi Febi. Bahkan, melihat cara Febi menangis, Miko mulai menduga ada sesuatu yang jauh lebih rumit di antara mereka. Namun, ia memilih diam. Ia tidak ingin bertanya sekarang. Bukan saat kakaknya sedang begitu ketakutan. Febi mengangguk kecil di dalam pelukan Miko. "Dia harus selamat, Mik..." Suaranya bergetar. "Aku belum sempat mengatakan sesuatu kepadanya." Miko mengusap punggung kakaknya. "Kalau begitu, nanti Kakak bilang sendiri. Makanya, sekarang kita berdoa supaya dia cepat sembuh." Febi memejamkan mata. Kedua tangannya bertaut di depan dada. "Ya Allah, aku mohon..." Air matanya kembali mengalir. "Kalau memang masih ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya dengan dia, tolong jangan ambil dia sekarang." Febi menarik napas yang terasa begitu berat. "Aku masih marah kepa
Last Updated : 2026-10-12 Read more