Mobil tua milik Dalung melaju pelan meninggalkan kota yang selama ini terasa seperti neraka bagi Febi. Hujan rintik masih turun membasahi kaca mobil. Lampu jalan memantul samar di aspal basah. Dan di kursi penumpang depan, Febi duduk diam memeluk dirinya sendiri. Matanya kosong. Terlalu banyak yang terjadi dalam waktu singkat sampai perasaannya seperti mati rasa. Sedangkan di kursi belakang, Miko justru terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Remaja itu sesekali melirik Dalung dengan mata berbinar kecil. “Bang Dalung keren ya…” bisiknya pelan pada Febi. Febi menoleh lemah. Miko tersenyum kecil. “Dateng pas banget kayak pahlawan.” Kalimat itu membuat Dalung tertawa kecil hambar di balik kemudi. “Pahlawan apaan.” gumamnya pelan. "Kak Febi lagi sedih karena ibu. bang Dalung datang jadi pahlawan dong, buat hibur kakak!!" Namun diam-diam, lelaki itu menggenggam setir lebih erat saat matanya melirik Febi sekilas. Karena sejak tadi, perempuan itu terlalu di
Dernière mise à jour : 2026-05-24 Read More