Bricia menelan ludah. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum genit, melainkan tatapan yang penuh arti.“Om…,” gumamnya pelan, “ini di kantor, Om.”Andrew terkekeh kecil. Dahinya menempel di dahi Bricia.“Memangnya kenapa kalau di kantor?” tanyanya santai, sebelum kembali mengecup bibir Bricia penuh godaan.“Aku… takut kalau ada yang lihat,” ucap Bricia lirih.“Ya nggak apa-apa kalau ada yang lihat,” jawab Andrew ringan. “Kan kita cuma mau sarapan.”“Hah?”Bricia melongo sempurna. Wajah yang tadi menahan gairah itu seketika berubah datar.“Sarapan?” tanyanya, memastikan.“Iya. Aku belum sarapan,” kata Andrew polos. “Jadi, haruskah kita sarapan di sini?”Bricia langsung manyun. Dengan gerakan agak kasar, ia turun dari pangkuan Andrew.Sementara Andrew menahan tawa mati-matian.Andrew bangkit menuju mejanya, mengambil sebuah paper bag yang tadi dibelikan Harry, lalu kembali ke sofa.“Sini, Bri. Ikut makan.”Ia menumpahkan beberapa roti ke atas meja. Setelah membuka satu, Andrew langsung
Terakhir Diperbarui : 2025-12-16 Baca selengkapnya