Menatap alamat di layar ponsel dengan napas tertahan. Gudang tua di Jalan Industri Raya No. 47. Tempat yang sudah lama ditinggalkan, jauh dari pemukiman, sempurna untuk... hal-hal buruk. Revan merebut ponsel, membaca pesan itu dengan rahang mengeras. "Kamu nggak akan pergi sendirian," katanya tegas. "Ini jelas jebakan." "Tapi kalau aku nggak datang, mereka akan bunuh Ibu dan Ayah." Menatapnya dengan air mata menggenang. "Aku nggak punya pilihan, Revan." Dia menatap lama, lalu menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi aku akan ikut. Aku akan sembunyi di sekitar gudang. Kalau ada apa-apa, aku akan masuk." Kirana berdiri cepat. "Aku juga ikut." Revan menggeleng. "Nggak. Kamu harus tetap di sini. Kalau terjadi sesuatu pada kami, kamu yang harus laporkan video itu ke polisi. Kamu yang harus pastikan kebenaran keluar." Kirana menatap dengan wajah penuh kekhawatiran. "Tapi—" "Ini bukan permintaan, Kirana," potong Revan tegas. "Ini perintah." Kirana akhirnya mengangguk pelan, meski air m
Terakhir Diperbarui : 2025-11-24 Baca selengkapnya