Menatap Kirana dengan napas tertahan. Jantung berdetak begitu keras sampai rasanya bisa terdengar di seluruh koridor. "Aku ada di sana. Dan aku tahu... siapa yang membunuhnya." Kata-kata itu bergantung di udara, berat, menakutkan. Kirana menatap sekeliling dengan cemas, memastikan tidak ada orang lain. Lalu menarik tangan dengan cepat, membawa masuk ke kamar tamu di ujung lorong. Pintu ditutup pelan, dikunci dari dalam. Ruangan itu kecil, hanya ada satu tempat tidur dan meja kecil. Tirai jendela tertutup rapat, membuat ruangan terasa semakin sempit. Kirana berdiri membelakangi, tangannya memegang tepi meja dengan erat. Bahunya naik turun, seperti sedang berusaha mengatur napas. "Kakak..." panggil pelan, suara gemetar. "Apa maksud Kakak tadi?" Dia tidak langsung menjawab. Hanya berdiri di sana, diam, seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri. Lalu perlahan, dia berbalik. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca. "Aku mencintai Dimas," katanya pelan, suaranya bergetar. "Aku me
Last Updated : 2025-11-20 Read more