Lampu biru dan merah menyala, berputar-putar di luar jendela Panti Asuhan St. Maria. Sirene polisi memekakkan telinga. Aruna, Nadira, dan Johan terdiam. "Dia menuduh kita penculik," kata Nadira, suaranya datar. Dia melihat ke luar jendela, matanya menyipit karena cahaya yang berkedip. "Dia membalikkan cerita. Dia membuat kita terperangkap secara hukum." "Sial!" Aruna memukul dinding kayu di sampingnya. Tangannya yang sakit tidak terasa. "Kalau polisi di sini, Johan tidak bisa keluar!" Johan sudah menyembunyikan flash drive itu di lapisan sepatu botnya. Dia merangkul ranselnya. "Aku bisa keluar," kata Johan. Matanya mencari-cari jalan. "Rumah sakit tua punya banyak jalan tikus. Jendela belakang ruang cuci terhubung ke kebun sayur, lalu ke tembok." "Terlalu berisiko," balas Nadira. "Kalau kau tertangkap, bukti itu hilang, dan Revan menang." "Kalau aku tidak keluar, kita semua mati di sini," tukas Johan. "Sambil menunggu. Aku akan coba." Aruna mengangguk, melihat tekad
Magbasa pa