Aruna keluar dari toilet tamu dengan langkah yang diatur sehalus mungkin. Earpiece kecil itu terpasang erat di telinga kirinya, tertutup sempurna oleh sanggul rambut yang rumit. Di telinganya, suara statis mendesis pelan, seperti suara ombak radio yang mencari sinyal di tengah badai. Bima, pelayan katering yang ternyata sekutu itu, sudah menghilang ke dalam kerumunan, kembali menjadi bayangan yang menyajikan canapé dan anggur. Aruna kembali ke ballroom. Udara di sana terasa berat oleh campuran parfum mahal, alkohol, dan kemunafikan. Cahaya lampu kristal menyilaukan, namun bagi Aruna, dunia kini terbelah menjadi dua. Mata kanannya melihat kemewahan pesta. Telinga kirinya mendengar kegelapan. "Tim Alpha, posisi di pintu belakang. Pastikan rute steril pukul 02.45," suara Kiara terdengar jernih di telinga Aruna. Dingin. Profesional. Aruna menelan ludah. Ia mengambil segelas air dari meja terdekat untuk menenangkan tangannya yang gemetar. Tiba-tiba, sebuah tangan melingkar di pingga
Last Updated : 2025-11-25 Read more