"Mereka bukan polisi," kata Pak Herman, suaranya pelan dan tajam. "Itu tim keamanan swasta. Pembunuh." Van suplai tua itu terhenti mendadak. Di depan, dua SUV hitam memblokir jalan. Beberapa pria berpakaian hitam, membawa senjata, keluar dari mobil. "Kita tidak bisa berbalik. Kita harus lari," desak Aruna. "Di sini padat gudang. Itu keuntungan kita," kata Pak Herman. "Tinggalkan van ini. Cepat." Mereka bertiga menyelinap keluar dari van, merangkak ke balik tumpukan karung goni besar. Aruna pincang. Kruk kayu yang ia gunakan bergesek dengan tanah, menimbulkan suara yang terlalu keras di keheningan malam pelabuhan. "Jalan di antara peti kemas! Jangan sampai terlihat lampu!" bisik Nadira, menyangga tubuh Aruna. Udara pelabuhan itu dingin, berbau minyak diesel, ikan amis, dan air laut. Suara bising dari mesin derek yang bekerja di kejauhan membuat langkah kaki mereka tersamarkan. Mereka berlari kecil, membungkuk di antara peti kemas. Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar
Read more