Matahari yang menembus tirai tipis apartemen kecil itu terasa lebih lembut dari biasanya. Atau mungkin bukan mataharinya—mungkin karena pagi itu, Nayla bangun di tempat yang tidak lagi sendirian. Rafael masih memeluk pinggangnya dari belakang, napasnya stabil, hangat, dan terlalu nyaman untuk disebut kebetulan. Nayla membuka mata perlahan. Dadanya masih penuh dengan sisa perasaan dari malam sebelumnya—perasaan yang tidak mudah diakui, tapi juga tidak bisa ia buang begitu saja. Ia mencoba bergerak pelan untuk bangun. Gerakan kecilnya membuat lengan Rafael otomatis mengencang, seperti refleks yang sudah diprogramkan tubuhnya. “Jangan gerak dulu,” suara Rafael terdengar serak, berat, dengan nada pagi yang membuat wajah Nayla memanas seketika. “Kamu udah bangun,” gumam Nayla, setengah mengeluh, setengah salah tingkah. Rafael menempelkan hidungnya ke leher Nayla. “Gimana aku mau tidur lagi kalau kamu goyang-goyang gini?” “Itu namanya bangun, Rafael…” “Hm.” Rafael memejamkan mata lag
최신 업데이트 : 2025-12-05 더 보기