Bandara Soekarno–Hatta pagi itu terasa lebih sibuk dari biasanya. Suara langkah kaki, roda koper yang beradu dengan lantai, dan panggilan boarding dari speaker bercampur menjadi satu. Namun bagi Nayla, semua itu terdengar jauh—seperti ada lapisan tipis antara dirinya dan dunia luar. Mungkin karena kurang tidur. Atau mungkin… karena Rafael yang sejak subuh tadi tak pernah melepaskan tangan darinya. “Aku bawain paspornya,” ujar Rafael sambil meraih tangan Nayla, menyelipkan jari mereka. “Biar nggak hilang.” “Kayak aku anak kecil aja,” gumam Nayla. “Memang.” Nayla mendelik kecil, tapi Rafael menanggapi dengan senyum santai—senyum yang sejak tadi terasa berbeda. Ada sesuatu di baliknya: ketenangan, rasa memiliki, dan… rasa bangga membawa Nayla ke sampingnya. Setelah check-in dan melewati imigrasi, Rafael menggiring Nayla ke lounge first class. Ruangannya sunyi, hangat, dan wangi seperti hotel bintang lima. Nayla menghela napas. “Aku baru masuk ke lounge kayak begini di film-film, t
최신 업데이트 : 2025-12-13 더 보기