Begitu Arman menghilang di antara kerumunan bandara, Nayla masih berdiri mematung di tempat. Suaranya hilang, detaknya kacau, dan napasnya terasa tidak stabil. Troli di depan Rafael bahkan tidak ia lihat lagi—yang ada hanya satu kalimat yang berputar-putar di kepalanya: “Setelah ini… keadaan nggak akan sama lagi.” Nayla memegangi lengan sweaternya, mencoba menenangkan diri, tapi semakin ia berpikir, semakin panik dirinya. “Rafael… itu tadi… kita ketahuan, kan?” suaranya kecil, hampir tak terdengar. Rafael kembali mendorong troli dengan pelan, lalu mendekat ke arah Nayla. “Nay, lihat aku.” Ia menunduk sedikit agar sejajar dengannya. “Tenang dulu.” “Tadi dia nanya soal Larissa… dan kamu nggak jawab apa-apa. Itu—itu berarti dia curiga. Sangat curiga.” Nayla menunduk, seolah takut melihat reaksi Rafael. “Aku… aku bikin kamu dalam masalah, ya?” Rafael langsung menggeleng. “Nggak.” Nadanya tegas tapi lembut. “Bukan kamu.” “Tapi—” “Nayla.” Rafael menghela napas, satu tangannya menyent
최신 업데이트 : 2025-12-19 더 보기