Di dalam kamar Putri Nawang, suasana begitu hening. Nawang duduk bersila di atas tikar halus, tubuhnya masih gemetar. Di depannya, Ratu Waskitajawi telah duduk anggun, tegak, berwibawa. Di antara mereka, sebuah meja rendah telah tersaji sederhana, dua cangkir kecil berisi wedang jahe hangat. Nawang menundukkan kepala, jemarinya saling meremas. Sesekali ia melirik ratu, lalu buru-buru menunduk lagi. “Ya Allah... aku harus apa sekarang? Takut banget hadap-hadapan sama Ratu begini,” batinnya. Ratu Waskitajawi mengangkat cangkirnya perlahan, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali. Matanya menatap lurus ke arah Sang Putri, tatapan yang tak bisa dihindari. “Aku tidak menyangka kau akan berani berbuat sejauh itu, Rara Nawang.” Suaranya pelan, namun terasa menusuk. Alea menarik napas, mencoba bicara, “Ampun, Ratu... hamba-“ Namun Ratu mengangkat tangan, menyuruhnya diam. “Aku sudah tahu alasanmu tidak mau menemuiku tadi hanyalah dusta. Sakit hanyalah dalih untuk menyembunyik
Last Updated : 2026-01-14 Read more