Sudut Pandang Felicia:"Felicia, ya ampun. Ternyata benar-benar kamu. Apa kabarmu, Sayang?" katanya, lalu langsung memelukku.Air mataku pun tak terbendung. Baru saat itulah aku sadar betapa aku merindukannya. Selama bertahun-tahun jauh darinya, aku memang sangat merindukan perhatian dan kasih sayangnya.Meski dia bukan ibu kandungku, dia selalu membuatku merasakan kasih sayang tulus seorang ibu. Bersama mereka, aku pernah merasakan kebahagiaan memiliki keluarga yang utuh. Aku tidak akan pernah melupakannya."Mama," panggilku dengan suara bergetar, sementara air mata terus mengalir tanpa henti."Apa kabarmu? Kenapa kamu nggak pernah menemui kami? Kami kangen sekali sama kamu, Felicia," katanya sambil melepaskan pelukannya.Dia bahkan mengusap air mata di pipiku sambil menatap wajahku. Aku malah menangis semakin deras."Maaf, Mama. Aku terlalu pengecut. Maaf karena aku bersembunyi darimu," ucapku.Dia langsung menggeleng. "Tolong jangan bicara seperti itu. Ini bukan salahmu. Seharusnya
อ่านเพิ่มเติม