تسجيل الدخول“Aku mau sampai, Sayang!” Dewa mengucapkan kalimat singkat itu dengan geraman. Hasratnya sudah mencapai ubun-ubun. Dia merasa kalau sebentar lagi putihnya akan sampai.Lelaki itu mempercapet pergerakannya, dia tidak peduli dengan bagaimana Lily merintih di bawah kungkungannya. Hingga berakhir dengan hentakannya yang begitu dalam, bersamaan dengan cairannya yang menghangatkan Lily di bawah sana.Lily yang sudah mendapatkan puncaknya beberapa kali hanya terkulai lemas, dan pasrah dengan napas yang tidak beraturan. Dewa beringsut ke sebelah tubuh Lily setelah melepaskan penyatuan di antara mereka. Sepasang suami istri itu menatap langit-langit, menikmati sisa kenikmatan yang baru saja mereka gapai.Di saat itulah, Dewa mulai teringat tentang tujuan utamanya saat pulang ke resort tadi. Dia begitu penasaran tentang siapa lelaki yang menemani istrinya jalan-jalan. Sebenarnya dia mungkin tidak akan terlalu mempermasalahkan kalau lelaki tersebut dia kenal, atau setidaknya Lily izin terlebih d
“Selamat pagi, Pak Dewa. Sebagai asisten Bapak sementara selama di Bali, saya akan menjabarkan jadwal Bapak selama seharian ini. Tapi Pak Dewa, saya kemarin tidak sengaja melihat bu Lily jalan-jalan bersama seorang lelaki. Apa kalian membawa kerabat juga ke sini? Maaf kalau saya lancang sebelumnya, Pak.”Wanita Bernama Nirina itu membungkukkan dirinya sebagai permohonan maaf karena sudah ikut campur dengan kehidupan pribadi atasannya. Dia sadar kalau seharusnya dia tidak menanyakan soal ini, tetapi entah mengapa dia sangat penasaran untuk mengetahui kebenaran yang ada.“Laki-laki? Kamu ada fotonya? Maksud saya, apa kamu sempat mengambil gambar mereka berdua. Mungkin saya mengenal siapa lelaki itu. Soalnya saya dan istri ke sini tidak membawa kerabat. Kamu saja saya minta menyusul, bukan?”“Kebetulan saya ada fotonya, Pak. Soalnya posisi saya ada di depan meja mereka, tetapi tidak terlalu dekat. Ini dia fotonya, Pak.” Nirina membuka galeri fotonya, dan menyerahkan ponselnya ke Dewa. Le
Sekarang Dewa bahkan semakin brutal. Gerakannya tidak beraturan, semakin cepat, hingga membuat goncangan di ranjang mereka. Lily pun gila dibuatnya. Ini trelampau nikmat.“Mas Dewa, bisakah kita berhenti sebentar saja?” Lily memelas, berharap Dewa mau memberinya sedikit ruang untuk sekedar mengambil napas.“Maaf, Sayang. Aku tidak mau berhenti sekarang. Ini terlalu nikmat,” jawab Dewa dengan begitu sensual. Lelaki itu menjilati telinga, dan leher Lily tanpa menghentikan pergerakan pinggulnya.“Kamu terlalu panas untuk dilewatkan, Baby.” Dewa menyambung kalimatnya. Hentakan lelaki itu semakin intens. Desahan Lily juga semakin sering terdengar. Dia terus memanggil nama Dewa. Membuat lelaki itu semakin lepas kendali.“Give me one kiss, Mas. Aku mau bibir kamu sekarang,” pinta Lily memohon.Dewa menururuti keinginannya. Lelaki itu segera menghadiahkan lumatan pada bibir Lily,dan disambut rakus oleh sang pemiliknya.“Apa kamu sudah ingin keluar sekarang, Baby?” tanya Dewa kemudian. Dia sud
Bali, Bulgari Resort.Dua Minggu berlalu, dan di sini Dewa dan Lily sekarang. Setelah melewati berbagai masalah, Dewa merasa ini merupakan saat yang tepat untuk melepaskan semuanya. Kembali ke mode-mode awal yang penuh nuansa romantis dan intim, tanpa ada masalah-masalah yang membuat mereka pusing. Lihatlah sekarang, pagi baru saja menjelang, tetapi sepasang suami istri itu sudah saling melumat. Lily yang tidak mengenakan apapun, tanpak berada di atas tubuh Dewa. Sebagian tubuhnya tertutup selimut. Begitu pula dengan Dewa, lelaki itu tak mengenakan sehelai benang pun, pasrah dalam pelampiasan hasrat istrinya. Dari gerakannya, Lily terlihat sangat tidak sabar untuk berbagi kenikmatan dengan sang suami. Padahal semalam, mereka melewati sebagian besarnya dengan bercinta.Dewa pun sama tak sabarnya. Dia membanting pelan tubuh Lily ke samping tubuhnya. Lelaki itu kemudian merangkak naik ke atas tubuh sang subsmitif. Napas mereka pun beradu, keduanya sudah berada di bawah kungkungan hasrat
Matahari baru saja terbenam, menyisakan semburat jingga keunguan di ufuk barat saat mobil Dewa memasuki pelataran rumah. Lily, yang sedang menyiram beberapa tanaman hias di teras, segera meletakkan selang airnya. Senyumnya mengembang lebar, sebuah pemandangan yang kini menjadi asupan energi paling mujarab bagi Dewa setelah seharian bergelut dengan angka dan rapat yang melelahkan.Dewa turun dari mobil, melonggarkan simpul dasinya, dan langsung disambut oleh pelukan hangat istrinya."Selamat datang di rumah kita, Mas," bisik Lily sambil mengecup pipi Dewa."Terima kasih, Sayang. Wangi tanah basah dan bunga... aku suka suasana sore di rumah kita," jawab Dewa sambil merangkul pinggang Lily, menuntunnya masuk ke dalam rumah.Setelah mandi dan berganti pakaian santai, Dewa bergabung dengan Lily di meja makan. Malam ini Lily memasak sup ayam jahe, salah satu kesukaan Dewa. Uap panas dari mangkuk mengepul, menciptakan suasana yang intim dan nyaman. Dewa menatap istrinya yang sedang sib
Pagi itu, sinar matahari merambat masuk melalui celah gorden dapur yang bergaya minimalis, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Tapi suasana di dalam rumah itu terasa jauh lebih hangat daripada biasanya. Setelah badai emosi yang mereka lalui, kedamaian kini benar-benar menetap di setiap sudut ruangan rumah itu.Di dapur, suara desis mentega yang meleleh di atas wajan datar beradu dengan aroma harum roti panggang dan kopi yang baru saja diseduh. Dewa sedang menjalankan rutinitas pagi favoritnya, memasak sarapan untuk sang istri.Pagi ini, Dewa tampil sangat santai, atau bisa dikatakan, sangat menggoda bagi Lily. Dia tidak mengenakan atasan, membiarkan punggungnya yang lebar dan otot-otot lengannya yang kokoh terlihat jelas. Dia hanya mengenakan celana pendek kain berwarna abu-abu yang duduk rendah di pinggulnya. Setiap kali Dewa bergerak untuk membalik telur atau mengambil piring, otot-otot di perutnya yang terpahat sempurna—sixpack yang selalu terjaga ber







