Axel menatap papan poster kehamilan di dinding—gambar janin, jadwal trimester, senyum pasangan bahagia. Ia memalingkan wajah cepat, rahangnya menegang. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Kalau… hasilnya positif,” suara Sarah memecah keheningan, lirih namun jelas, “Pokoknya kamu harus tanggung jawab.” Axel tidak langsung menjawab. Napasnya tertahan sesaat. “Kita lihat dulu hasilnya,” ucapnya akhirnya, datar. Sarah menoleh, menatapnya lama. Ada kecewa yang tak ia sembunyikan, tapi ia memilih diam. Tangannya kembali ke perutnya, gerakan kecil yang membuat Axel semakin gelisah. Nama Sarah dipanggil. Mereka berdiri. Axel mengangguk singkat, mengikuti perawat menuju ruang periksa. Lampu putih terasa menyilaukan. Sarah naik ke ranjang pemeriksaan, tirai ditarik separuh. Dokter perempuan itu tersenyum profesional, menanyakan riwayat singkat. Axel berdiri di sudut ruangan, punggungnya kaku. Setiap bunyi—gesekan alat, klik layar—terdengar terlalu keras di telinganya. “Tarik napas pelan,” u
Last Updated : 2026-01-04 Read more