LOGINSkala berbaring di sisi Luina yang sudah tertidur lelap. Ia merapikan selimut yang sedikit tersingkap, memastikan menutupi tubuh Luina dengan sempurna. Ia meraih tubuh Luina ke dalam pelukannya, satu tangan melingkar protektif di punggung, satu lagi bertumpu ringan di perutnya. Skala menghembuskan napas pelan, menempelkan dagunya di puncak kepala Luina. Beberapa jam berlalu. Hampir tengah malam, Skala terbangun oleh gerakan kecil di sisinya. Awalnya ia mengira hanya refleks biasa. Namun gerakan itu datang lagi—pelan, berulang, seolah seseorang gelisah mencari posisi nyaman. Skala membuka mata. Luina meringkuk, alisnya berkerut. Bibirnya bergerak pelan, mengeluarkan rintihan kecil yang tertahan. “Hm… Mas…” rengeknya lirih, nyaris tak terdengar. Matanya tetap terpejam. Skala langsung siaga. Ia sedikit menegakkan tubuh, tangan kanannya mengusap lengan Luina dengan lembut. “Sayang?” bisiknya. “Kenapa?” Luina bergeser lagi, wajahnya sedikit meringis. Tangannya tanpa sadar meremas
Skala melepas kancing jasnya dengan satu tangan seraya melangkah masuk ke unit apartemen. Sepatunya ia lepaskan asal di dekat pintu—kebiasaan yang jarang ia lakukan. Langkahnya terhenti. Di ruang tengah, Luina tertidur meringkuk di sofa. Selimut tipis menutupi setengah tubuhnya, sementara televisi masih menyala menampilkan acara yang entah sejak kapan tidak lagi ia tonton. Skala langsung melangkah mendekat. Ia berjongkok di samping sofa, menatap wajah istrinya lekat-lekat. Wajah Luina terlihat lebih pucat dari biasanya, alisnya sedikit berkerut bahkan saat tidur. Satu tangannya melingkar di perutnya, refleks protektif yang membuat dada Skala terasa ditarik pelan. “Kenapa tidur di sini, sih…” gumamnya lirih. Tangannya terangkat, menyibakkan anak rambut yang jatuh ke dahi Luina. Ia meraih remote, mematikan televisi. Pelan-pelan, Skala menyelipkan satu lengannya ke bawah bahu Luina, satu lagi menyangga kakinya. Saat tubuh Luina sedikit terangkat, ia bergumam kecil, kelo
Axel menatap papan poster kehamilan di dinding—gambar janin, jadwal trimester, senyum pasangan bahagia. Ia memalingkan wajah cepat, rahangnya menegang. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Kalau… hasilnya positif,” suara Sarah memecah keheningan, lirih namun jelas, “Pokoknya kamu harus tanggung jawab.” Axel tidak langsung menjawab. Napasnya tertahan sesaat. “Kita lihat dulu hasilnya,” ucapnya akhirnya, datar. Sarah menoleh, menatapnya lama. Ada kecewa yang tak ia sembunyikan, tapi ia memilih diam. Tangannya kembali ke perutnya, gerakan kecil yang membuat Axel semakin gelisah. Nama Sarah dipanggil. Mereka berdiri. Axel mengangguk singkat, mengikuti perawat menuju ruang periksa. Lampu putih terasa menyilaukan. Sarah naik ke ranjang pemeriksaan, tirai ditarik separuh. Dokter perempuan itu tersenyum profesional, menanyakan riwayat singkat. Axel berdiri di sudut ruangan, punggungnya kaku. Setiap bunyi—gesekan alat, klik layar—terdengar terlalu keras di telinganya. “Tarik napas pelan,” u
Ruang rapat itu dipenuhi suara penjelasan dan proyektor yang menampilkan grafik demi grafik. Beberapa staf duduk rapi mengelilingi meja panjang, fokus menyimak presentasi yang sedang berjalan. “…jadi untuk kuartal ini, kita usulkan efisiensi di divisi operasional—” Skala duduk di kursi utama, jasnya rapi, posturnya tegak. Namun fokusnya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu. Di sela-sela penjelasan staf, tangannya beberapa kali bergerak ke ponsel di atas meja. Layarnya menyala. Tidak ada notifikasi. Skala kembali mematikannya, lalu menatap layar presentasi… hanya untuk beberapa detik kemudian kembali melirik ponselnya. “Luina udah makan belum ya…” batinnya. “Masih mual nggak…? Kalau kenapa-kenapa, dia pasti telepon,” batinnya lagi. Presentasi berlanjut, tapi pikiran Skala terpecah antara angka-angka di layar dan bayangan Luina yang sendirian di apartemen. “Pak Skala?” suara salah satu staf tiba-tiba terdengar. Skala masih menatap ponselnya, alisnya sedikit berkeru
Luina tersenyum merekah melihat beberapa kue yang Ajeng letakkan di atas meja. Matanya berbinar bagai anak kecil yang menemukan harta karun. Tangannya sudah lebih dulu bergerak, mengambil satu potong cheese cake tanpa ragu.“Kamu punya kabar gembira apa? Cepat cerita,” ucap Luina antusias sambil langsung mencicipinya.Begitu sendok menyentuh lidahnya, ia memejamkan mata sejenak.“Hmm… ini enak banget,” gumamnya puas. “Sumpah, jauh lebih enak dari bubur pagi tadi.”Ajeng menyilangkan tangan di dada, senyum penuh rahasia terbit di wajahnya.“Tapi lo jangan kaget ya.”Luina membuka mata, masih mengunyah santai. Ia mengangguk singkat, sama sekali belum curiga.“Udah biasa aku dikagetin sama hidup,” ucapnya.Ajeng menarik napas sebentar, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit.“Farhan… nembak gue.”Sendok di tangan Luina berhenti di udara.Detik berikutnya, Luina tersedak hebat. Ia menepuk dadanya sendiri sambil batuk-batuk kecil.“Far—han?!” Matanya membelalak sempurna menatap Ajeng. “Farhan
Skala sudah lebih dulu bangun pagi-pagi sekali. Ia menyiapkan segalanya—semangkuk bubur jagung hangat, segelas susu, serta obat yang harus diminum Luina—lalu menatanya rapi di atas meja kecil di samping tempat tidur.Ia mendekat, duduk di tepi ranjang. Dengan lembut jemarinya mengelus rambut Luina yang terurai di bantal.“Luina… bangun, sayang,” bisiknya pelan.Luina mengerjap, lalu membuka mata. Begitu kesadarannya penuh, ia langsung terkejut melihat Skala sudah rapi dengan kemeja dan jasnya.“Mas…” suaranya masih serak. “Kamu mau berangkat ke kantor?” tanyanya sambil perlahan mengubah posisi tubuhnya, bersandar pada bantal.“Iya, Sayang. Ini udah jam sembilan,” jawab Skala lembut.“Tapi sebelum ke kantor, Mas mau kamu makan dan minum susu dulu," lanjutnya.Pandangan Luina berpindah ke meja kecil di samping ranjang. “Bubur?” tanyanya. “Kamu beli?”Skala tersenyum kecil. “Mas bikin sendiri. Bubur jagung. Spesial buat istri Mas yang lagi hamil.”Ia meraih mangkuk itu, hendak menyuapkan







