“M-mungkin Om Kay udah tidur? Besok aja kita kasih, Rin,” saran Amelia.Karina mengerutkan alisnya, ragu. “Masa, sih? Tumben banget, Papa tidur awal—” Belum selesai bicara, pintu kamar yang Karina teriaki tiba-tiba terbuka, dan sosok Kayden berdiri di hadapan mereka dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca.“Happy birthday, Papa!” seru Karina, segera tersenyum lebar, mengangkat kado besar di tangannya.Diikuti oleh Amelia yang sedikit terlambat mengatakannya, suaranya lebih kecil. “Selamat ulang tahun, Om.” Amelia berusaha keras untuk bersikap normal, namun sorot matanya sedikit menghindar.Kayden hanya berwajah datar seperti biasa. Namun, perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil. “Makasih, ya. Padahal tadi udah dimasakin, kan?”“Tadi cuma makan malam aja. Kita belum tiup lilin sama potong kue, tadi Papa buru-buru ke kamar, sih,” gerutu Karina.“Ada sedikit kerjaan dari atasan tadi. Harus buru-buru dicek,” jawab Kayden beralasan. Pandangannya kini beralih pada Amel
Last Updated : 2025-12-31 Read more