Senin pagi buta, suasana syahdu pegunungan harus berganti dengan suara mesin mobil yang dipanaskan. Pak Wijaya berdiri di depan teras, membekali mereka dengan dua kardus besar berisi mangga hasil kebun dan kerupuk kaleng kesukaan Vivian."Hati-hati di jalan, Jun. Jangan ngebut-ngebut, ingat ada 'aset berharga' Papa di dalam perut itu," pesan Pak Wijaya sambil menepuk bahu menantunya.Juno tersenyum lebar. "Siap, Pa. Terima kasih buat tumpangannya. Nanti kalau ada waktu luang lagi, kami pasti mampir."Perjalanan pulang terasa lebih santai. Vivian tidak lagi terlihat murung; ia justru asyik bernyanyi mengikuti lagu di radio sambil sesekali menyuapi Juno potongan buah mangga yang sudah dikupas. Begitu memasuki batas kota Jakarta, kemacetan menyambut mereka seperti biasa, tapi anehnya, Juno tidak merasa sebal seperti biasanya."Kita langsung ke rumah sakit, kan?" tanya Vivian sambil mengusap perutnya yang terasa semakin kencang."Iya, Bayu sudah mengatur jadwal dengan Dokter Sarah ja
Huling Na-update : 2026-01-26 Magbasa pa