Mata Dara membelalak tak percaya saat melihat Arkha melangkah masuk dengan seikat buket bunga mawar merah yang elegan. Seketika, ruang tamu yang harum oleh lilin aromaterapi itu seolah disirami warna dan harapan baru.“Untuk kamu, Yang,” ucap Arkha, menyodorkan buket itu dengan senyum yang jarang terlihat akhir-akhir ini.Dara menerimanya dengan tangan sedikit gemetar, senyumnya terlihat menghiasi wajah perlahan. “Terima kasih, Mas. Bunganya cantik banget.”Namun sebelum dia sempat mencium aroma bunga-bunga itu, Arkha sudah mendekat dan memeluknya erat. Bisikannya hangat di telinga Dara. “Aku juga kangen, Yang. Maafin aku ya, kalau selama ini ... aku jadi dingin.”Dalam pelukan itu, Dara merasakan sesuatu yang telah lama hilang. Kehangatan, perhatian, dan mungkin, sebuah awal yang baru. Mungkin malam itu, kejujuran yang dia rencanakan bisa disampaikan dengan cara yang lebih lembut.Atau mungkin, bunga mawar merah
Last Updated : 2025-11-27 Read more