“Kamu nggak marah, Mas?” Suara Dara lirih, hampir seperti bisikan anak kecil yang takut dimarahi. Matanya menatap Arkha dengan hati-hati, mencari tanda-tanda kekecewaan atau amarah di wajah suaminya.Namun yang ia temukan justru senyum lembut. Arkha mengangkat tangan, menyibak helaian rambut Dara yang basah dan menempel di pipinya.“Nggak, Yang,” jawab Arkha, suaranya tenang dan pasti. “Aku justru harus minta maaf karena selama ini membuat kamu tidak nyaman.”Dia meraih tangan Dara, memegangnya erat di bawah air hangat yang menenangkan.“Kita bisa mulai pelan-pelan. Sampai kamu benar-benar siap, Yang.”Di dalam bathtub yang dipenuhi uap air dan wangi lavender, Dara akhirnya merasakan kedamaian yang sudah lama ia cari. Mungkin itulah yang ia butuhkan. Bukan pelarian, tetapi kesabaran dan pengertian.Kata sederhana itu terucap penuh makna. Suara Dara bergetar halus, campuran lega dan haru. Air matanya nyaris tumpah, bercampur dengan uap air hangat di sekitarnya.“Makasih ya, Mas,” ucap
Baca selengkapnya