Usai perdebatan panjang yang melelahkan, Arkha akhirnya mengalah. Dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca, ia mengangguk pelan.“Baik ... Oke, Yang. Aku mengerti. Kamu butuh waktu,” ucapnya, suara hampir tak terdengar. “Tapi ... janji sama aku, kalau kamu akan mempertimbangkan ulang. Demi kita.”Dara mengangguk, meski hatinya belum sepenuhnya yakin. Selama beberapa hari berikutnya, ia tinggal di kamar yang sama namun dengan jarak yang terasa seperti jurang. Arkha berusaha keras—memasak untuknya, merapikan rumah, bahkan menawarkan pijatan. Namun Dara tetap dingin, fokus pada pemulihan ibunya dan bisnis sabunnya yang mulai berkembang.Hingga suatu malam, saat Dara merasa sangat lelah setelah seharian di rumah sakit, Arkha menawarkan segelas susu hangat. “Ini bisa bantu kamu tidur, Yang,” katanya dengan senyum lemah.Dara, yang terlalu lelah untuk curiga, meminumnya. Tak lama, tubuhnya terasa berat, pikirannya berkabut, tetapi ad
Dernière mise à jour : 2025-12-05 Read More