"Baik, Tuan Muda."Mendengar perintah itu, mata Agus seketika melebar karena horor yang luar biasa. Wajahnya pucat pasih. "Jangan, aku mohon." Namun tidak ada yang menghiraukannya. Devan dan Luna, hanya duduk santai layaknya penonton. Mereka ingin melihat dengan jelas ketika nanti Agus merasakan sakit yang luar biasa.Setelah menunggu beberapa jam, anak buah Devan mengeluarkan sebuah tang besi besar dari dalam kotak perkakas, sementara yang lain mencengkeram pergelangan tangan kanan Agus di atas sandaran kursi dengan sangat kuat.Bram hanya diam memandang Agus. Devan memang sangat baik, bahkan tidak pernah menyinggung orang lain. Namun jika ia sudah di ganggu, maka siksaan yang dia berikan teramat sadis. Bram sudah sangat mengenal bos nya itu dengan sangat baik."T-tidak! Jangan! Ampun, Tuan Devan! Nyonya Luna, saya mohon, ampun!!!" jerit Agus histeris, tubuhnya meronta-ronta seperti orang gila hingga rantai besi yang melilitnya bergemerincing nyaring.KRETEK! SREEET!"ARRRGGGHHH
Last Updated : 2026-07-14 Read more