Hendra masih berdiri tegap, mencoba menguasai situasi. Napasnya berat, tubuhnya masih tegang, tapi mata Marvin yang menyala penuh amarah membuatnya sedikit goyah. Bu Dyas menatapnya dengan dingin, senyum tipis di bibirnya seperti pisau.“Sudah waktunya kamu membayar kejahatanmu terhadap keluargaku, Hendra.”Detik itu, anak buah Red Fang—yang selama ini menunggu isyarat—langsung menyerang. Mereka melompat, menendang, meninju, tanpa menunggu aba-aba lagi.Hendra mencoba membalas, pukulan demi pukulan mendarat, tapi tubuhnya masih terguncang oleh keterkejutan sebelumnya.“Lepas…!” Hendra berteriak, tapi setiap gerakannya semakin terhimpit. Red Fang yang dibawah kendali Bu Dyas terlalu cepat dan lebih terlatih dibanding yang sebelumnya. Satu persatu, orang-orang di sekitarnya tersungkur, luka muncul di beberapa tubuhnya.Marvin, walau tertatih dan masih berdarah, memegang tongkatnya dengan mantap, menahan tubuhnya agar tetap seimbang. Setiap langkahnya adalah ancaman. Anak buah Hendra mul
Dernière mise à jour : 2026-02-17 Read More