LOGINLangkah mereka tidak lagi secepat sebelumnya.Felly tetap menggenggam tangan Marvin, tapi kali ini lebih tenang. Tidak ada lagi gerakan kecil seperti tadi, tidak ada lagi kepala yang menoleh cepat ke setiap sudut jalan.Ia hanya berjalan… sambil memandang ke depan.Marvin menyadari itu sejak beberapa meter pertama.“Mas…” panggil Felly pelan.“Mm?”Felly menoleh sedikit ke samping, lalu bertanya, “Trevi itu masih jauh nggak sih?”Marvin melirik sekilas ke arah jalan di depan mereka, lalu kembali ke Felly. “Dekat.”Jawaban singkat. Tapi Felly tidak langsung merespons seperti biasanya.Ada jeda kecil di antara mereka. Marvin merasakan perubahan itu.Tangannya yang menggenggam tangan Felly sedikit bergerak, bukan menarik, hanya menyesuaikan posisi agar lebih nyaman.“Capek?” tanyanya kemudian, lebih pelan dari tadi.“Enggak,” jawab Felly cepat, lalu setelah itu suaranya mengecil, “cuma… kepikiran aja.”Marvin berhenti melangkah sedikit lebih lambat, tapi tidak sepenuhnya berhenti. “Yang
Udara pagi di Roma menyambut begitu mereka melangkah keluar dari hotel. Tidak terlalu dingin, tapi cukup memberi sensasi segar yang langsung terasa di kulit, berbeda dari yang biasa Felly rasakan.Cahaya matahari jatuh lembut di antara bangunan-bangunan tua berwarna hangat, memantul di jendela-jendela tinggi, sementara suara percakapan dalam bahasa yang asing terdengar bersahutan di sepanjang jalan.Untuk beberapa detik, Felly hanya diam di tempatnya, matanya bergerak pelan, menyerap semuanya seolah takut melewatkan satu detail pun.Marvin berdiri di sampingnya. Tatapannya tidak sepenuhnya tertuju pada kota di depan mereka, melainkan pada Felly yang jelas terlihat lebih hidup dari biasanya.Tanpa banyak kata, tangannya bergerak, menggenggam tangan Felly dengan santai, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Ayo,” ucapnya pelan.Bukan ajakan yang mendesak, tapi cukup untuk membuat Felly tersadar dari kekagumannya. Ia menoleh, tersenyum kecil, lalu melangkah mengikuti Marvin—masuk lebih
Setelah pergulatan panjang, keduanya tak langsung beranjak.Marvin hanya mengelap bagian bawah mereka yang lengket dengan handuk basah yang hangat, lalu kembali merebahkan diri bersama Felly menyandarkan kepalanya di dada Marvin, sementara Marvin bersandar pada kepala ranjang.“Sudah lapar apa belum, sayang?” tanya Marvin.Felly menggeleng. “Sekarang belum terasa sih. Mas sudah lapar?”“Belum. Tadi pas kita main, ada yang menekan bel. Sepertinya sarapan kita,” jawab Marvin dengan entengnya.Felly mengernyitkan alisnya dan mendongak, “Serius?”Marvin terkekeh. “Iya, sayang. Soalnya kan tadi Mas sudah pesan. Tapi kamu malah godain saya. Jadinya kebablasan deh.”Felly memicingkan matanya sebal, lalu kembali menyandarkan tubuhnya. “Mana ada aku godain. Mas aja yang tiba-tiba menyerang.”Marvin tak menyangkal. Ia hanya terkekeh pelan dan mengecup pucuk kepala Felly.“Seharusnya sebentar lagi akan diantarkan, sayang. Nanti sarapan dulu, lalu kita keluar, ya? Kamu sudah bikin itinerary mau
[full 21+mohonkebijaksanaannya]Deru napas mereka semakin terdengar berat. Felly yang tadinya duduk menyamping, kini melangkahi paha Marvin dan duduk menghadap Marvin sepenuhnya.Tatapan mereka kembali beradu, napas mereka saling bersahutan, lalu… ciuman pun kembali dimulai entah oleh siapa.Awalnya pelan… pelan… lalu kian berat. Mereka coba mendominasi satu sama lain yang tentu saja dimenangkan oleh Marvin.Lalu dengan satu gerakan kecil, Marvin berdiri. Mengangkat Felly dengan begitu ringannya.Ia sangga bokong Felly agar tidak terjatuh dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menekan leher belakang perempuan itu agar tidak menjauh dari posisinya.Felly tak berontak, ia melingkarkan kakinya ke tubuh Marvin. Lantas Marvin duduk di sisi ranjang, Felly masih berada dalam dekapannya dengan ciuman yang belum terlepas sama sekali. Tak mempedulikan saliva yang sudah menjuntai di dagu
Beberapa menit berlalu tanpa perubahan berarti.Jemari Marvin masih bergerak di atas keyboard, tapi ritmenya tidak lagi secepat sebelumnya. Satu per satu grafik bergeser di layar, angka-angka diperiksa, lalu dibiarkan begitu saja tanpa tindak lanjut.Perlahan… gerakannya melambat. Hingga akhirnya berhenti.Tatapannya tidak lagi terpaku pada layar di depannya. Melainkan bergeser turun ke arah Felly.Tubuh perempuan itu masih bersandar nyaman di pangkuannya, napasnya teratur, wajahnya tenang tanpa beban apa pun. Satu tangannya masih menggenggam ringan kemeja Marvin, seolah bahkan dalam tidurnya pun ia tidak benar-benar ingin melepaskan.Marvin terdiam beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.Tanpa sadar, tubuhnya sedikit bersandar ke belakang, memberi ruang agar bisa melihat Felly lebih jelas. Rambut yang jatuh menutupi sebagian wajah itu bergerak pelan tertiup hembusan AC, membuat alisnya sedikit mengernyit.Tangannya terangkat. Namun ragu sepersekian detik.Lalu bergerak pelan,
Tak terasa pagi kembali menyapa. Felly menatap Marvin yang masih terpejam dalam tidurnya. Dengan telunjuknya, ia menggambar pola mengikuti struktur hidung Marvin yang tinggi.“Tampan sekali,” gumam Felly sambil tersenyum.Felly tidak segera menarik tangannya.Ujung jarinya masih bergerak pelan, turun dari batang hidung Marvin, berhenti sebentar di bibirnya yang terkatup tenang. Ada jeda di sana, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak benar-benar pahami.Hening.Hanya perpaduan dari napas Marvin yang teratur, dan suara air conditioner yang berbunyi pelan.Felly tersenyum kecil.Setelah huru-hara yang terjadi belakangan, baru kali ini ia menemukan ketenangan dalam keheningan. Hatinya terasa penuh dengan cara yang aneh—hangat, dan sangat menenangkan.Pelan, ia menarik tangannya, takut tanpa alasan yang jelas kalau sentuhannya akan membangunkan laki-laki itu. Tapi saat ia hendak menjauh, jari Marvin bergerak lebih dulu, menangkap pergelangan tangannya dengan ringa
Hendra masih berdiri tegap, mencoba menguasai situasi. Napasnya berat, tubuhnya masih tegang, tapi mata Marvin yang menyala penuh amarah membuatnya sedikit goyah. Bu Dyas menatapnya dengan dingin, senyum tipis di bibirnya seperti pisau.“Sudah waktunya kamu membayar kejahatanmu terhadap keluargaku,
Sementara itu, di bangunan terbengkalai yang sepi, beberapa pria berbadan tegap mondar-mandir di depan perapian seolah tengah menunggu sesuatu.Dari gerbang masuk, satu… dua… tiga… langkah kaki bergema, bergabung menjadi barisan gelap yang tak terhitung jumlahnya.Bantuan dari Keluarga Devan Horris
BRAKKKOlivia, Oliver, Kevin, dan Devan yang berada di tempat terpisah, membeku dalam sekian detik mendengar suara debuman yang keras itu.Suara itu tidak terputus. Tidak seperti gangguan biasa. Tidak pula seperti benda jatuh. Terlalu mengerikan untuk didengar.Suara teriakan Marvin yang tertahan m
Mobil yang dikendarai Marvin berguling beberapa kali. Sampai kemudian terbalik dengan asap putih pekat yang keluar dari badannya.Bunyi berdenging itu terdengar keras dari telinga Marvin.Semua terasa lambat. Terlalu lambat. Seolah dunia menekan tombol jeda tepat setelah benturan ke







