Malam datang lebih cepat dari yang Aluna kira. Langit di luar mulai menggelap, dan udara terasa lebih dingin. Rumah Ratna tetap hangat, lampu-lampu menyala lembut, dan suara televisi mengisi ruang tengah. Namun di dalam dirinya, tidak ada yang benar-benar tenang.Aluna duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Percakapan tadi masih berputar di kepalanya.'Sebagai suamimu. Dan sebagai ayah dari anak yang kau kandung.'Ia mengembuskan napas pelan, lalu memejamkan mata.“Kenapa…” gumamnya lirih.Kenapa kata-kata itu terasa terlalu nyata?Padahal sejak awal, semua ini hanya kesepakatan. Jalan keluar. Bukan sesuatu yang harus ia rasakan. Namun sekarang, semuanya tidak lagi sesederhana itu.Ketukan pelan terdengar di pintu.“Luna?”Suara Ratna.Aluna membuka mata. “Masuk, Tante.”Pintu terbuka perlahan. Ratna masuk dengan langkah tenang, membawa segelas susu hangat.“Kau belum istirahat,” katanya lembut.Aluna tersenyum tipis. “Belum mengantuk.”Ratna mendekat, meletakkan gelas
Terakhir Diperbarui : 2026-02-23 Baca selengkapnya