Share

Bab 64

Author: Ummu Amay
last update Last Updated: 2026-02-26 09:15:01

Sore datang di kediaman Wiratama, membawa bayangan yang semakin panjang di halaman belakang rumah itu. Matahari turun meninggalkan warna jingga yang memantul di kaca jendela.

Di balkon, waktu seolah berjalan lebih lambat. Aluna masih berdiri di sana. Tidak banyak bergerak. Tidak juga berbicara. Namun kehadiran Arga di sampingnya membuat perasaan sunyi itu … tidak lagi terasa kosong.

Mereka tidak berdiri terlalu dekat. Jarak tetap terjaga. Seperti kebiasaan yang tidak mudah diubah. Namun entah s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 71

    Pagi setelah keputusan itu … rumah Wiratama berubah ritmenya. Bukan lebih tenang. Justru lebih sibuk.Mobil keluar masuk halaman sejak matahari belum tinggi. Beberapa staf perusahaan datang membawa berkas. Panggilan telepon tidak berhenti. Semua orang bergerak dengan satu tujuan yang sama —menyiapkan konferensi pers.Namun di tengah semua kesibukan itu, ada satu orang yang justru bergerak paling tenang. Arga.Ia berdiri di ruang kerja kecil di lantai bawah. Beberapa dokumen terbuka di atas meja. Bukan dokumen perusahaan. Melainkan daftar media.Daftar tamu. Dan satu lagi —daftar keamanan. Seorang pria berdiri di hadapannya. Bara. “Jumlah media sudah dikonfirmasi tiga puluh dua,” lapornya.Arga mengangguk kecil.“Tambahkan lima orang pengamanan di luar gerbang.”Bara menatapnya sedikit heran. “Lima?”“Minimal.” Arga menutup map di depannya.“Kalau keluarga Kusuma benar-benar ingin membuat masalah … mereka tidak akan datang sendirian.”Sunyi sejenak.Bara mengangguk. “Baik.”Ia hampir

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 70

    Pagi berikutnya datang tanpa suara. Namun rumah itu sudah lebih dulu terjaga.Di ruang makan, suasana kembali tertata rapi. Meja panjang, kursi tersusun simetris, aroma kopi memenuhi udara. Semuanya terlihat normal.Terlalu normal.Aluna turun lebih awal dari biasanya. Wajahnya tenang. Bekas di pipinya hampir hilang —salep yang dikirim Arga bekerja dengan baik. Namun yang berubah bukan hanya itu.Cara ia melangkah berbeda. Tidak terburu-buru. Tidak juga ragu.Arga sudah berdiri di tempatnya. Seperti biasa. Namun pagi itu, jarak di antara mereka terasa … lebih disadari.Tatapan mereka sempat bertemu. Singkat. Namun cukup.Langkah lain terdengar.Tn. Wiratama masuk ke ruang makan dengan ekspresi yang sudah kembali netral. Terlalu netral. Seolah ledakan kemarin tidak pernah terjadi.Ia duduk. Melipat serbetnya dengan rapi. Lalu—“Kita akan mengadakan konferensi pers.”Kalimat itu jatuh begitu saja.Sendok di tangan Ny. Wiratama berhenti sepersekian detik. Sedangkan Aluna tidak langsung b

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 69

    Pintu ruang tamu tertutup rapat. Namun ketenangan yang tersisa di dalamnya … bukan ketenangan yang sebenarnya. Itu hanya diam sebelum sesuatu meledak.Langkah kaki terdengar berat di koridor. Tn. Wiratama berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Pintu dibuka tanpa banyak suara—namun saat ditutup, bunyinya cukup keras untuk terdengar sampai luar.Di dalam—Sunyi. Beberapa detik. Lalu—Brak!Sebuah map tebal dilempar ke meja. Kertas-kertas di dalamnya berserakan. Angka. Dokumen. Perjanjian. Semua yang sejak awal ia siapkan … kini tidak berarti apa-apa.Napasnya berat. Untuk pertama kalinya, raut wajahnya tidak lagi sepenuhnya terkendali.Gagal. Satu kata yang jarang sekali ia rasakan. Dan hari ini —itu terjadi.Di luar pintu, Ny. Wiratama berdiri. Ia tidak langsung masuk. Ia tahu —suaminya tidak ingin diganggu saat seperti ini. Namun tetap saja —ia membuka pintu.Pelan.Di dalam, Tn. Wiratama berdiri membelakangi. Tangannya bertumpu pada meja. Bahunya tegang.“Kau membiarkan itu terjadi.”

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 68

    Suasana di ruang tamu itu belum benar-benar pulih. Kalimat Aluna masih menggantung di udara. Tidak hilang. Tidak juga mereda. Justru semakin terasa jelas —seolah setiap orang di ruangan itu baru menyadari sesuatu yang selama ini mereka abaikan.Bahwa Aluna … tidak lagi sama.Rendra menatapnya lama. Lebih lama dari sebelumnya. Seolah mencoba mencari celah —satu saja— yang bisa ia gunakan untuk mengembalikan keadaan seperti dulu.Namun tidak ada. Perempuan di hadapannya bukan lagi Aluna yang mudah didorong, dibujuk, atau ditinggalkan.Ia berdiri. Penuh percaya diri. Dan itu … mengganggu.“Jadi ini keputusan finalmu?” Nada suara Rendra lebih rendah. Lebih dingin.Aluna tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menatapnya. Tegas. Dan itu sudah cukup.Rendra tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.“Baik.”Ia berdiri perlahan. Merapikan jasnya.“Kalau begitu, kita lihat saja sampai kapan kamu bisa mempertahankan keputusan itu.”Kalimat itu terdengar ringan. Tapi ancamannya jel

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 67

    Gerbang besi itu terbuka perlahan. Suara mesin mobil yang masuk ke halaman terasa seperti sesuatu yang merayap masuk ke dalam dada —pelan, tapi pasti. Tidak bisa dihindari.Aluna berdiri tegak. Tangannya di samping tubuh, tidak lagi gemetar seperti kemarin. Namun ada ketegangan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya. Seperti biasa. Namun hari ini —posisinya bukan lagi sekadar bayangan.Mobil itu berhenti. Pintu terbuka. Dan seseorang turun. Rendra.Langkahnya santai. Terlalu santai untuk seseorang yang pernah menghilang tanpa jejak. Jasnya rapi. Penampilannya terawat. Seolah hidupnya baik-baik saja. Seolah tidak pernah ada yang ia tinggalkan.Tatapannya langsung mencari satu orang. Aluna.Dan ketika mata mereka bertemu —senyum tipis itu muncul.“Akhirnya kita kembali bertemu.”Sunyi. Tidak ada jawaban.Aluna menatapnya datar. Tidak ada lagi getaran yang dulu pernah ada. Tidak juga kemarahan yang meledak. Hanya … kosong. Dan itu jauh leb

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 66

    Malam turun perlahan di kediaman Wiratama. Lampu-lampu menyala satu per satu, menyingkirkan gelap yang merambat di setiap sudut rumah. Namun hangatnya cahaya itu tidak mampu mengusir dingin yang tersisa dari kejadia di ruang makan.Semua kembali berjalan seperti biasa. Terlalu biasa. Seolah tidak ada yang terjadi.Di kamar, Aluna duduk di tepi ranjang. Tangannya masih berada di pipinya. Sentuhan itu sudah hilang, namun rasanya belum.Bukan lagi panas karena tamparan. Tapi hangat yang tertinggal. Ia menutup mata perlahan.“Kenapa…” gumamnya lirih. Bukan tentang kejadian tadi. Bukan juga tentang ayahnya. Tapi tentang sesuatu yang jauh lebih mengganggu. Perasaan yang muncul di saat yang tidak seharusnya.Ia mengembuskan napas pelan, lalu merebahkan tubuhnya. Tatapannya kosong ke langit-langit. Untuk ke sekian kalinya, ia tidak memikirkan Rendra. Tidak juga masa lalunya.Yang ia pikirkan … hanya satu orang. Dan itu membuatnya gelisah. Ketukan pelan terdengar di pintu. Aluna membuka mata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status