Arga berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan. Ekspresinya tak terbaca. Hanya ada lelah yang membuat Aluna tak tahan untuk bertanya. "Jangan pedulikan ucapan ayah."Arga menghentikan langkah sebelum sampai pintu kamarnya. Ia lalu menoleh, menatap Aluna dengan senyum tipis —nyaris tak terlihat. "Bagaimana pun beliau ayahmu."Aluna tampak tak senang. "Tapi, ia tak bisa terus menerus mengekang kehidupanku.""Bukan mengekang. Tapi, menjaga.""Ia hanya peduli dengan nama baik keluarga."Arga benar-benar tersenyum sekarang. Melihat kekesalan pada wajah Aluna tentang ayahnya, ia merasa bahwa hubungannya sekarang seolah sudah tak lagi ada jarak. "Kau tahu, aku baru memahami sekarang, bahwa betapa beratnya menjadi seorang kepala keluarga. Terutama keluarga terpandang seperti kalian."Aluna terdiam. Tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Arga menatap pintu kamarnya seolah memastikan bahwa ia dan Aluna memang tidak boleh melewati batas seperti yang sudah diucapkan oleh sang mert
Read more