Deva menyalakan keran air dingin, menggenggam tangan Renita dengan hati-hati dan menahannya di bawah aliran air.“Kamu kenapa nggak bilang kalau sakit? Lihat sini… mas cek dulu, hmm?” suara Deva rendah, penuh kekhawatiran.Renita menunduk, bibirnya bergetar menahan panas.“Mas… masih sakit.”Deva menatapnya, alisnya mengerut.“Iya, jelas sakit. Kena air panas gini tuh perih banget. Sabar, ya… sebentar lagi reda.”Beberapa detik berlalu sebelum Deva bertanya,“Kamu punya kotak P3K di rumah?”Renita mengangguk pelan. “Punya, Mas.”Tiba-tiba Reza muncul di ambang pintu kamar mandi, nada suaranya enteng.“Renita nggak apa-apa itu, Mas. Nanti juga sembuh sendiri.”Deva tersentak, menoleh tajam.“Za, tolong ambilin P3K-nya. Ini istri kamu kena air panas. Jangan dibiarkan begitu aja.”Nada Deva tegas, berbeda jauh dari biasanya.Reza terlihat kesal tapi terpaksa menurut.“Iya, iya… aku ambil.”Renita membuka mulut ingin meredakan suasana, tapi Deva menutupnya dengan tatapan lembut namun terk
آخر تحديث : 2025-12-08 اقرأ المزيد