Renita menggenggam ujung blusnya, jemarinya bergetar halus. Di kepalanya, logika dan perasaan saling tarik-menarik tanpa ada yang mau mengalah.“Ayo makan dulu,” ucap Deva lembut, menarik kursi untuk Renita. “Mas nggak mau kamu kelaparan.”Renita mengangguk pelan. “Iya, Mas.”Mereka duduk berhadapan. Tak lama, ponsel Deva bergetar—alarm tanda pesanan siap. Deva berdiri sebentar, mengambil nampan, lalu kembali ke meja.“Hati-hati,” katanya sambil menyodorkan piring. “Masih panas.”“Iya,” jawab Renita lirih.Deva memperhatikan Renita yang hanya menatap makanan tanpa menyentuhnya. “Ren,” ucapnya pelan, lebih serius dari sebelumnya, “Mas sudah bilang… mas siap ninggalin Nathalia.”Renita mengangkat wajahnya perlahan.“Asal kamu juga berani ninggalin Reza,” lanjut Deva, lalu menggenggam tangan Renita di atas meja. “Kita mulai hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak. ”Renita terdiam. Matanya berkabut. Tangannya tak menarik diri, tapi juga tak membalas genggaman itu.“Ren?” Deva memangg
Terakhir Diperbarui : 2025-12-27 Baca selengkapnya