LOGINPonsel Renita tiba-tiba bergetar keras di atas ranjang. Layar menyala terang.My Husband – Calling.Darah Renita seakan berhenti mengalir. Wajahnya langsung pucat.“Itu… itu suami kamu nelepon,” ujar Deva dengan nada dingin, jelas menahan cemburu.Renita panik.“Mas, ngumpet dulu sana. Cepetan.”Deva menghela napas kesal, bangkit dari duduknya.“Ngumpet di mana?”Ia sempat mengacak rambut Renita dengan gemas, membuat perempuan itu makin gugup.“Kamar mandi aja,” jawab Renita cepat. “Mas ke sana dulu.”Deva melangkah ke kamar mandi, menutup pintu perlahan.” Nasib jadi barang selundupan … “ ucap Deva menghela nafas kasar. Renita buru-buru merapikan rambutnya, menarik napas panjang, lalu mengangkat panggilan itu.“Hallo, Mas. Ada apa?” suaranya dibuat setenang mungkin.“Dompet mas ketinggalan di apartemen,” suara Reza terdengar tergesa.“Mas lagi balik sekarang.”“Hah? Kok bisa, Mas?” Renita mencoba menahan gemetar.“Iya, tadi mas buru-buru jadi kelupaan,” jawab Reza.“Mas udah di lift.
Pagi itu Renita terbangun lebih dulu. Ia menatap langit-langit sebentar, lalu bangkit pelan agar tak membangunkan Reza. Seperti biasa, langkah kakinya langsung menuju dapur.Suara peralatan dapur terdengar pelan saat ia mulai menyiapkan sarapan.Belum lama ia mengoles mentega ke roti, pintu kamar terbuka.“Ren, cepetan masaknya ya,” ujar Reza sambil menguap. “Mas mau ke bengkel.”Renita menoleh, alisnya mengernyit.“Bengkel kan bukanya siang, Mas. Mau ngapain pagi-pagi begini?”Ia menatap Reza lekat-lekat. “Kenapa nggak sekalian bantuin aku beresin apartemen?”Reza mendecak, malas.“Pekerjaan rumah itu tugas istri, Ren.”Ia meraih ponselnya.“Mas mau ketemu temen. Nanti kamu beresin semuanya aja. Mas jemput kalau udah mau berangkat.”Tanpa menunggu jawaban, Reza kembali masuk ke kamar.Renita berdiri terpaku di dapur. Tangannya yang memegang spatula mengepal pelan.Kenapa makin hari kamu makin nggak berubah, Mas?Jangan salahkan aku kalau suatu saat aku berpaling ke Mas Deva…Ia menar
Renita duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Lampu kamar hanya menyala temaram. Dadanya terasa sesak, nafasnya belum sepenuhnya stabil ketika ponselnya bergetar.Layar menyala.Deva melakukan panggilan video.Renita ragu sejenak, lalu mengusap wajahnya cepat-cepat sebelum menerima.“Hallo, sayang,” suara Deva terdengar lembut dari seberang.Renita memalingkan wajah sedikit.“Mas ngapain nelpon aku malam-malam?”Deva menatap layar lebih saksama. Alisnya langsung mengernyit. “Mata kamu sembab. Kamu habis nangis, ya?”Renita refleks mengusap sudut matanya.“Nggak. Kelilipan aja.”“Kamu bohong,” Deva berkata pelan tapi tegas. “Aku kenal kamu, Ren.”Renita menelan ludah.“Kamu berantem sama Reza?” tanya Deva lagi.“Nggak,” jawab Renita cepat, terlalu cepat. “Biasa aja.”Deva menghela napas.“Udah, Ren. Jangan bohong sama Mas.”Renita terdiam. Bibirnya bergetar, tapi ia berusaha tersenyum.Deva melanjutkan dengan suara lebih rendah, penuh keyakinan.“Mas udah bilang… tinggalin R
Mobil berhenti di basement apartemen. Renita turun tanpa banyak bicara, mengikuti langkah Reza menuju lift. Suasana di antara mereka terasa kaku.Begitu pintu lift terbuka dan mereka masuk unit, Reza langsung melepas sepatu. “Kamu masak, gih. Aku laper,” katanya datar.Renita meletakkan tasnya pelan. “Aku capek, Mas. Kenapa tadi nggak sekalian beli di luar?” ucapnya menahan lelah.Reza menoleh sekilas. “Sayang duitnya.”Renita tersenyum getir. “Sayang duitnya… atau sayang pakai uang kamu dulu?”Reza mendecak. “Itu kamu tau udah sana pesen in pakai uang kamu.”Renita menatapnya, tak percaya. “Kamu tuh gak pernah berubah.”“Nah, gitu dong,” Reza langsung tersenyum. “Pesanin sekarang ya. Aku mau mandi.”Belum sempat Renita menjawab, Reza sudah masuk kamar dan menutup pintu kamar mandi. Suara air menyala.Renita berdiri beberapa detik di ruang tamu, menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Akhirnya ia membuka aplikasi ojek online dan memesan makanan.Kenapa ya… dia keluar uang buat
Sore hari setelah selesai semua pekerjaan, Renita menunggu di lobby gedung kantor. Tak lama kemudian, mobil Reza berhenti di depan pintu masuk.“Ayo, masuk,” ujar Reza singkat.Renita membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. Mobil langsung melaju meninggalkan area parkir.Belum lima menit berjalan, Reza bersuara tanpa menoleh. “Kamu ada uang nggak?”Renita menatap ke depan. “Buat apa, Mas?”“Servis mobil di bengkel. Sebelum besok kita berangkat ke villa Nathalia di Puncak,” jawab Reza datar.Renita mengernyit. “Memangnya mobil kenapa?”“Namanya juga mobil. Tiap beberapa bulan harus servis,” katanya seolah itu hal sepele.Renita menarik napas. “Mas nggak ada uang?”Reza langsung menoleh tajam. “Ini kan tanggung jawab kamu. Tiap servis juga kamu yang bayar. Kenapa masih tanya? Kemarin aja kamu nggak mau bayar cicilan mobil. Ya sekarang kamu bayar servisnya.”Renita mengepalkan jari di pangkuannya. “Cicilan itu sudah dibayar, Mas. Ibu aku yang nutupin, dan aku sudah transfer balik ke
Taksi berhenti tepat di depan lobby gedung perusahaan. Renita segera turun, merapikan tasnya, lalu melangkah masuk dengan wajah profesional.Belum sempat duduk di meja kerjanya, seorang staf menghampiri.“Bu Renita, Pak Direktur meminta Ibu segera ke ruangannya.”Renita mengangguk sopan.“Baik, terima kasih.”Ia melangkah menuju lift dan menekan tombol lantai enam puluh. Pintu lift terbuka, Renita langsung keluar dan menuju ruang direktur.Di depan ruangan, Tiara—sekretaris direktur—tersenyum ramah.“Bu Renita, silakan masuk. Pak Direktur sudah menunggu.”Renita mengetuk pintu pelan.“Tok… tok…”“Silakan masuk.”Renita membuka pintu dan sedikit menunduk sopan.“Permisi, Pak. Maaf, Bapak memanggil saya?”“Masuk, Ren. Silakan duduk,” ujar Arman sambil menunjuk kursi di depannya.“Iya, Pak.” Renita duduk dengan sikap tegap.Arman membuka map di mejanya, menatap Renita dengan ekspresi puas.“Saya ingin menyampaikan langsung, saya sangat puas dengan kinerja kamu sebagai manajer selama ini.







