Amara menutup pintu kamar kosnya perlahan. Bunyi klik dari kunci yang berputar terdengar lebih keras dari yang ia duga, seolah menjadi penanda apakah ini awal dari sesuatu yang baru, atau justru akhir dari sebuah perjalanan yang selama ini ia sebut rumah. Ia bersandar di balik pintu, punggungnya menempel pada kayu yang mulai kusam, mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya. Kos itu sederhana. Tidak mewah, tak pula menyedihkan. Sebuah kamar kecil dengan satu ranjang, meja belajar, lemari sempit, dan jendela mungil yang menghadap gang sempit. Namun bagi Amara, tempat ini bukan sekadar kamar sewaan. Inilah pelariannya. Tempat aman dari rumah yang tak lagi memberinya rasa pulang, hanya tuntutan, bentakan, dan perasaan selalu salah. Ia melangkah pelan menuju kasur, lalu duduk di tepinya. Tatapannya kosong, terhenti pada dinding putih yang mulai menguning di beberapa bagian. Tangannya gemetar saat meraih ponsel dari dalam tas. Layar menyala, menampilkan belasan pan
Terakhir Diperbarui : 2026-01-10 Baca selengkapnya