**** Pagi datang tanpa permisi, sama seperti malam yang pergi terlalu cepat. Aku terbangun dengan kepala sedikit berat, sisa-sisa mimpi yang bercampur dengan kenyataan kemarin malam. Nama Pak Rassel, Bu Alina, ruang sidang BEM, wajah Mama, dan senyum tipis yang tak seharusnya kuingat semuanya berjejal di benakku. Aku duduk di tepi ranjang, menatap jam di ponsel. Terlambat lima belas menit. “Hebat, Amara,” gumamku. “Hari pertama pasca-drama, langsung nyaris telat.” Aku bersiap secepat mungkin. Kaos polos, jaket tipis, rambut kuikat asal. Tak ada energi untuk berdandan lebih. Saat melangkah keluar kos, udara pagi menyambut dengan dingin yang menggigit. Langkah kakiku terasa ragu, tapi tetap maju. Di kampus, suasana terlalu normal untuk hari yang terasa genting bagiku. Mahasiswa berlalu-lalang, tertawa, mengeluh soal tugas, seolah dunia tak pernah mencoba menelanku hidup-hidup. Aku berjalan menyusuri koridor fakultas, merasakan beberapa pasang mata menoleh. Ada yang pura-pura ta
Terakhir Diperbarui : 2026-01-16 Baca selengkapnya