**** Sore merambat pelan ketika aku tiba di kos. Lorong sempit terasa lebih lengang dari biasanya, seolah ikut memberi ruang bagi kepalaku yang masih penuh. Langkahku berhenti di depan pintu kamar. Tanganku sempat menggantung di udara sebelum akhirnya memutar kenop. Kamar ini sama seperti pagi tadi. Seprei kusut, meja belajar berantakan, dan cermin kecil yang memantulkan wajahku lelah, tapi utuh. Aku menjatuhkan tas, lalu duduk di tepi ranjang. Untuk pertama kalinya hari itu, aku membiarkan pundakku turun. Napas panjang keluar tanpa perlu dipaksa. Ponselku kembali bergetar. Hera: Kita ke kamar kamu. Jangan kunci pintu. Belum sempat kubalas, pintu sudah diketuk dua kali, disusul suara Dania, “Amara, kalau kamu pingsan sendirian, aku nggak mau disalahin.” Aku tersenyum kecil. “Masuk.” Mereka masuk seperti angin ribut yang sengaja dilembutkan. Hera langsung duduk di kursi belajarku, sementara Dania menjatuhkan diri di lantai, bersandar ke ranjang. “Resmi ya,” kata Dania
Terakhir Diperbarui : 2026-01-18 Baca selengkapnya