**** Kami beranjak hampir bersamaan. Nampan dikembalikan, sendok ditaruh, sisa-sisa makan siang ditinggalkan seperti jejak yang sengaja tidak dibersihkan sepenuhnya agar ada bukti bahwa jeda itu benar terjadi. Di luar kantin, matahari siang menekan pelan. Bayangan gedung memanjang, memisahkan kami menjadi dua siluet yang masih sejajar. “Terima kasih,” ucap Pak Rassel lagi, kali ini lebih pelan. “Aneh ya,” kataku sambil menyesuaikan tas di bahu. “Ucapan itu barusan terdengar beda.” “Karena konteks,” jawabnya. “Dan saksi.” Aku terkekeh kecil. “Bu Alina.” “Bu Alina,” ia mengangguk. “Beliau baik. Terlalu jujur.” “Terasa,” kataku. “Dan… agak menegangkan.” Kami berhenti di ujung koridor. Lalu lintas mahasiswa mulai ramai. Tawa, langkah, suara ponsel semuanya kembali normal, seolah tak ada garis yang baru saja kami rapikan. “Kamu mau langsung pulang?” tanyanya. “Rencana awal,” jawabku. “Tapi sekarang… kepikiran laporan asdos.” Ia menghela napas pendek. “Kalau mau, ker
Terakhir Diperbarui : 2026-01-30 Baca selengkapnya