**** Aku tidak pernah tahu ternyata melepaskan satu peran bisa terasa seperti melepas kulit lama. Hari terakhir status asdosku benar-benar nonaktif, aku berdiri di depan lemari cukup lama. Map-map administrasi sudah kukembalikan. Email resmi sudah kukirim. Grup koordinasi sudah kutinggalkan. Kosong. Tapi bukan kosong yang menyakitkan. Lebih seperti… lega yang belum sepenuhnya kukenal. “Akhirnya!” Hera menjatuhkan tubuhnya ke kasurku. “Kita jadi juga, kan? Jangan bilang kamu tiba-tiba batal demi revisi metodologi.” Aku memutar bola mata. “Aku yang ngajarin kamu manajemen waktu, Her.” Dania tertawa dari lantai, sibuk memasukkan camilan ke dalam tote bag. “Justru itu. Kamu terlalu jago manajemen sampai lupa hidup.” “Aku nggak separah itu,” gumamku. Hera duduk tegak, menatapku menyelidik. “Separah itu, Amara. Kamu butuh libur. Otakmu isinya skripsi, jurnal, dan…” ia menyipitkan mata, “…Pak Rassel.” Namanya disebut, dadaku refleks mengencang. “Aku lagi nggak mau mikirin siapa-s
Zuletzt aktualisiert : 2026-02-21 Mehr lesen