*** Aku tidak langsung pergi ke parkiran setelah keluar dari ruangan Pak Rassel. Kakiku justru membawaku ke taman kecil di belakang fakultas tempat Hera dan Dania biasa nongkrong kalau jam kosong. Dari jauh, aku sudah melihat mereka duduk berhadap-hadapan, dua gelas es kopi di meja, ekspresi yang terlalu siap menyambut gosip. Hera yang pertama menyadari kedatanganku. “Wajah lo kenapa?” tanyanya tanpa basa-basi. “Itu muka orang yang habis debat tapi pura-pura tenang.” Dania langsung menoleh. “Bimbingan?” Aku menjatuhkan diri ke kursi kosong. “Iya.” “Dan?” mereka berdua kompak mendekat. Aku menghembuskan napas panjang. “Pak Rassel berubah.” Hera menyipitkan mata. “Berubah gimana? Tambah dingin? Atau tambah perhatian?” “Lebih formal,” jawabku pelan. “Dingin, tapi bukan dingin marah. Lebih ke… menjaga jarak.” Dania langsung memukul meja pelan. “YES.” Aku menatapnya tajam. “Lo bisa nggak sih jangan reaksi dulu?” “Sorry, sorry,” katanya, tapi senyumnya terlalu leba
Terakhir Diperbarui : 2026-02-14 Baca selengkapnya