*** Pagi berikutnya datang dengan kepala yang masih berat, tapi langkahku terasa lebih tegak. Koridor Fakultas Hukum ramai seperti biasa. Suara sepatu, tawa kecil, dan aroma kopi dari kantin bercampur jadi satu. Aku berjalan sambil memeluk map, berusaha fokus pada jadwal asistensi hari ini. “MAR.” Aku menoleh. Dania berdiri di dekat tangga, rambutnya diikat asal, matanya tajam seperti biasa. Hera menyusul di belakangnya sambil membawa dua gelas kopi. “Lo keliatan beda,” kata Dania tanpa basa-basi. “Kurang tidur,” jawabku singkat. Hera menyodorkan satu gelas. “Minum dulu. Biar nggak tumbang sebelum siang.” Aku menerima kopi itu. “Makasih.” Kami berjalan berdampingan. “Pak Rassel hari ini ada kelas pagi sama sidang semu lanjutan siang,” kata Hera, seolah membaca jadwal di kepalaku. “Iya, gue tau,” jawabku. Dania melirikku. “Dan…?” “Dan apa?” “Dan lo nggak kepikiran apa-apa soal kemarin?” Dania menekan kata itu. Aku berhenti sejenak. “Gue kepikiran. Tapi g
Terakhir Diperbarui : 2026-02-09 Baca selengkapnya