**** Aku keluar dari basecamp ketika jam di ponsel menunjukkan pukul 23.47. Jalanan sudah lengang, lampu-lampu warung satu per satu padam. Aku mengenakan helm, menyalakan motor, dan menarik napas panjang sebelum melaju. “Cuma lima belas menit ke kos,” gumamku. “Aman.” Angin malam menerpa wajahku, dingin tapi menenangkan. Jalanan kecil menuju kosan cukup sepi, hanya ada beberapa motor lewat sesekali. Aku fokus ke depan, mencoba tidak memikirkan apa pun tidak mama, tidak Bianca, tidak Pak Bagas, tidak juga Pak Rassel. Sampai tiba-tiba… aku merasa ada motor lain yang melambat di sampingku. Aku menoleh sekilas. Dua pria. Helm setengah, jaket lusuh. “Dek,” salah satu dari mereka bersiul pelan. “Sendirian aja?” Dadaku langsung menegang. Aku mempercepat laju motor, tapi mereka ikut menambah kecepatan. “Eh, jangan ngebut,” katanya lagi sambil tertawa kecil. “Santai aja.” Aku memutar setang ke jalan yang lebih kecil, berharap mereka berhenti. Tapi tidak. Mereka justru memepe
Zuletzt aktualisiert : 2026-02-03 Mehr lesen