Hari keempat ospek.Lapangan tengah kampus sudah gelap, hanya diterangi api unggun besar di tengah dan ratusan fairy light yang bergoyang pelan ditiup angin malam. Bau jagung bakar dan marshmallow panggang menyelimuti udara.Nadia berdiri di atas panggung kayu sederhana, mikrofon di tangan, hoodie panitia navy-nya sedikit turun di bahu kiri karena gerakan tangan yang tegas. Cahaya api menari di kacamata bulatnya, membuat matanya berkilau.Kevin duduk di barisan paling depan pembina, tangan mengepal di atas lutut.Dia sudah gelisah sejak tadi siang, tapi malam ini jauh lebih parah.Arkan angkat tangan tinggi-tinggi, suaranya menggema di speaker.“Saya pilih Kak Nadia lagi boleh nggak?”Lapangan langsung “WOOOOOOOOO” keras.Kevin merasakan darahnya naik ke kepala dalam satu detik.Dia menarik napas dalam-dalam, tapi dada terasa sesak.Rahangnya mengatup keras sampai otot pipinya menonjol.Matanya menyipit, menatap Arkan yang naik panggung dengan langkah santai, senyum lebar, gitar akust
Last Updated : 2025-11-26 Read more