"Berasal dari wilayah pesisir selatan. Tepat di area di mana mobil penculik yang dikejar Pak Ibra terdeteksi terakhir kali," jelas pria itu.Mata Aya membelalak. Ia menoleh menatap Timo dengan amarah yang tergambar jelas di kedua matanya. "Timo," panggilnya tajam.Wajah Timo pucat pasi. Bibirnya bergetar, namun ia tetap bungkam. Ia tahu, sekali ia bicara, ia akan tamat. Namun, Aya tak mengalihkan pandangannya. Wanita itu berdiri dari duduknya dan mendekati pria yang berdiri menunduk di depannya."Katakan, di mana anakku!" ucapnya dengan kedua tangan terkepal erat.Timo masih menunduk."Jawab, Timo," tekan Aya kemudian."Sa-saya tidak tahu...." cicit Timo sembari menggeleng pelan dan kepala masih menunduk, menghindari bertemu mata dengan Aya."Jangan bohong. Kamu... pasti bekerja sama dengan penculik itu. Katakan, siapa dan di mana dia sekarang," desak Aya.Timo masih memilih bungkam. Membuat Aya semakin marah. Sinta pun mendekatinya dan menggenggam tangan istri sang Presdir."Bu, jang
Read more