"Eumm. Mungkin bisa sampai persalinan nanti, Bu," jawab Dokter singkat.Ibra terdiam. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan perutnya kembali bergejolak hanya karena memikirkan aroma kopi dan semur daging tadi. Namun, di balik rasa sakit fisiknya, ada sebuah kebanggaan tersirat. Jika ini adalah cara alam membiarkannya menanggung beban Aya, maka ia akan menjalaninya tanpa keluhan. Meski ia harus kehilangan wibawanya di depan wastafel kamar mandi setiap pagi.Sementara itu, di taman belakang kediaman Bagaskara, suasana jauh lebih ceria dan hangat. Putra sedang berjongkok di atas rumput hijau yang rapi. Di hadapannya, seekor kucing betina berbulu putih bersih seputih salju dengan mata bulat berwarna keemasan, sedang asyik menjilati potongan daging dari sebuah piring kecil."Lili laper, ya? Makan yang banyak. Ini semur kesukaan Ayah, loh," bisik Putra sembari mengelus bulu halus kucing itu."Ayah kan lagi nggak bisa makan, jadi masih banyak. Kamu makan sampai kenyang ya, Lili," lanjutnya p
더 보기