Share

Bab 203

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-03-12 21:42:30

Keesokan harinya, Radit sampai sepuluh menit lebih awal. Dia duduk di meja pojok yang tenang, memesan americano yang bahkan tidak dia sentuh.

Pukul 15.03, Dinda masuk.

Radit hampir tidak mengenalinya.

Dinda terlihat sangat berbeda dari terakhir kali dia melihatnya. Rambut dipotong pendek modern, bob yang rapi membingkai wajahnya dengan sempurna. Dia mengenakan blazer krem dengan jeans, kasual tapi profesional. Wajahnya terlihat lebih bercahaya. Ada rasa percaya diri yang dulu tidak dia miliki.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 319

    Meja makan kecil itu dipenuhi tawa untuk pertama kalinya setelah berhari-hari. Kara duduk di pangkuan Radit, memberi makan Arka dengan sendok penuh nasi goreng sambil tertawa kecil setiap kali adiknya menggumam “Enak, Kak!” Alya menuang susu untuk kedua anak itu, sementara Maya menyandarkan kepala di bahu suaminya, tangannya menggenggam tangan Radit di bawah meja.“Papa hebat tadi di TV,” kata Kara sambil menyuap sendiri. “Kara lihat Papa bilang ‘aku nggak takut’. Kara juga nggak takut lagi kok, Pa. Karena Papa dan Mama jagain Kara sama Arka.”Radit tersenyum, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Di saku celananya, ponsel terasa panas seperti bara. Pesan dari nomor tak dikenal itu masih terbuka di layar yang gelap.“Kamu kira Richard cuma punya satu tangan? Aku masih punya rekaman asli malam terakhirmu dengan Alya—yang bahkan Richard tidak tahu. Besok pagi, kalau tidak ada 20M ke rekening ini, rekaman itu akan dikirim ke Kara langsung. Selamat menikmati kemenanganmu yang rapuh, Radi

  • Godaan Mama Muda   Bab 318

    Pukul 08.15 pagi. Langit masih mendung, tapi hujan sudah reda menjadi gerimis tipis. Rumah kecil itu dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara.Radit berdiri di depan cermin kamar, mengikat dasi dengan tangan yang sedikit gemetar. Maya membantu merapikan kerah kemejanya, matanya bengkak tapi penuh tekad.“Kamu yakin mau lakukan ini?” tanya Maya pelan.Radit mengangguk. “Ini satu-satunya cara. Kita nggak bisa sembunyi lagi. Kalau aku diam, Richard akan terus mainkan permainannya.”Di ranjang besar, Kara dan Arka masih tidur berpelukan, boneka kelinci di tengah mereka. Wajah Kara masih pucat, ada bekas lakban samar di pipinya. Alya duduk di samping, mengawasi mereka tanpa berkedip.“Anak-anak aku yang jaga di sini,” kata Alya lirih. “Pengawal polisi sudah 12 orang di luar. Mereka aman.”Radit mendekat, mencium kening Kara dan Arka lama sekali. “Papa pergi sebentar ya, Sayang. Papa akan lawan orang jahat ini supaya kita bisa hidup tenang.”Kara menggeliat, matanya terbuka sedikit.

  • Godaan Mama Muda   Bab 317

    Mobil berhenti mendadak di pinggir jalan pelabuhan. Hujan masih deras, wiper bergerak cepat tapi tak mampu membersihkan kekacauan di hati Radit.Layar ponsel di tangannya menampilkan video live yang mengerikan—Kara kecil duduk di kursi putih, mata tertutup kain hitam, bahunya berguncang karena tangis pelan.“Papa… tolong Kara…” suara itu persis suara Kara. Persis.Maya mencondongkan tubuh dari kursi belakang, wajahnya pucat pasi. “Itu… itu Kara kita? Tapi Kara ada di sini!” Ia memeluk putrinya lebih erat, seolah takut angin bisa merebutnya lagi.Kara yang asli masih setengah sadar di pangkuannya, bibirnya bergerak pelan. “Mama… Kara di sini… jangan takut…”Radit memperbesar video. Di sudut layar terlihat tanggal dan waktu real-time—sedang berlangsung sekarang. Pria Singapura muncul di frame, suaranya dingin dan tenang.“Radit, kamu pikir penculikan tadi adalah akhirnya? Ini Kara cadangan yang sudah saya siapkan sejak bulan lalu. Deepfake? Bukan. Ini hasil kloning teknologi wajah dan s

  • Godaan Mama Muda   Bab 316

    Hujan tak kunjung reda, seolah langit ikut marah atas apa yang menimpa keluarga kecil itu. Di kantor polisi, Radit duduk di lantai ruang interogasi dengan kepala tertunduk.Video pendek Kara yang lemah itu masih diputar berulang di ponsel Pak Budi. Suara kecil putrinya memanggil “Papa... tolong...” seperti pisau yang terus menusuk ulu hati.“10 juta... hak asuh permanen...” bisik Radit dengan suara serak. “Mereka bukan manusia.”Pak Budi berjongkok di depannya. “Kita nggak akan bayar, Mas. Kalau bayar, mereka akan terus minta. Tim SAR sudah dapat jejak ban mobil hitam itu ke arah pelabuhan timur. Interpol dan Polairud sudah siaga. Kita masih punya waktu.”Radit mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi ada api amarah yang membara. “Saya mau keluar. Sekarang. Saya nggak peduli ditahan berapa lama setelah ini. Saya harus cari anak saya.”Polisi senior yang mengawasi menggeleng, tapi Pak Budi langsung maju. “Ini kasus penculikan anak. Sesuai prosedur darurat, Bapak bisa dapat penangguhan

  • Godaan Mama Muda   Bab 315

    Tangan bersarung hitam menekan mulut Kara kuat-kuat. Bau obat penenang yang tajam menyembur ke wajah kecilnya. Mata gadis itu melebar ketakutan sesaat sebelum kelopaknya terpejam.Boneka kelinci kesayangannya tergeletak sendirian di lantai dapur, telinga putihnya basah oleh air mata yang jatuh dari pipi Kara.“Target diamankan,” bisik salah satu penculik. “Cepat keluar lewat belakang.”Mereka menggendong tubuh lemas Kara seperti boneka kain, menyelinap keluar melalui pintu belakang yang sudah didobrak. Hujan deras langsung menyambut mereka, menyembunyikan jejak langkah di tanah basah.Di dalam kamar utama, Maya terbangun karena firasat buruk. Tempat tidur di sampingnya kosong. “Kara…?”Ia bangun cepat, berlari ke dapur sambil menyalakan lampu. Boneka kelinci tergeletak di lantai. Pintu belakang terbuka lebar, angin dingin dan hujan menyapu masuk.“Kara!!!” jerit Maya pecah. Ia berlari keluar ke halaman belakang, kakinya telanjang menginjak genangan air. “KARA!!! SAYANG!!! JAWAB MAMA!!

  • Godaan Mama Muda   Bab 314

    Malam semakin larut, tapi kantor polisi masih terang benderang seperti siang. Radit duduk di kursi besi yang dingin, borgol sudah dilepas tapi rasa beratnya masih melekat di pergelangan tangan. Pak Budi berjalan mondar-mandir di depannya sambil berbicara di telepon dengan suara rendah."Ya... tolong tahan surat itu. Kara masih di bawah umur, pernyataannya belum bisa dijadikan bukti sah. Kita butuh psikolog anak untuk evaluasi dulu."Radit mengangkat wajahnya. Matanya merah dan kosong. "Dia benar-benar nulis surat itu, Pak?"Pak Budi mengangguk pelan. "Maya bilang Kara sudah selesai. Huruf crayon besar-besar. Dia tulis dia rela ikut wali dari Singapura supaya Bapak bebas. Maya sedang berusaha cegah dia kirim ke mana pun."Radit menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya berguncang tanpa suara. "Aku hancurkan hidupnya, Pak. Aku yang bikin dia berpikir pengorbanan diri adalah satu-satunya jalan."Di rumah, suasana sama mencekamnya. Maya duduk di lantai ruang tamu, memeluk Kara yang sudah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status