Wu Laosan yang sejak tadi pura-pura netral akhirnya ikut menyisip. Ia mengangkat mangkuk tehnya dan menyeringai tipis ke arah lapak-lapak sekitar, seperti orang yang sedang menjual kalimat sebelum kabarnya sendiri matang. “Di pasar hantu, nama bisa lebih cepat rusak daripada tubuh,” katanya. “Kalau harga kepala sudah digantung, bahkan bayanganmu sendiri bisa mulai terasa berat.” Itulah saat orang yang belum muncul akhirnya datang. Fan Shou tidak masuk seperti preman pasar, dan itu justru membuatnya lebih mencolok. Ia berjalan dengan jubah kelabu tua yang rapi, sepatu bersih, dan satu gulungan bambu hitam di tangan kiri, seperti pencatat pajak dari dinasti yang tersesat ke liang pembunuh dan malah merasa tempat itu cocok dengannya. Ia berhenti di tengah lorong blok utara, tidak terlalu dekat ke Balai Pengobatan Bulan Patah, tetapi juga tidak memilih sudut aman. Di belakangnya a
Mehr lesen