Rong Tian berdiri dua langkah di depannya, tetap tenang, tetap tanpa senjata. Han Que tertawa keras, putus asa dan marah bercampur jadi satu. “Bagus,” katanya sambil meludah ke samping. “Kalau begitu aku benar. Rumor tentangmu memang ada dagingnya.” Ia memaksa bangkit dan menyerang lagi, kali ini bukan dengan jurus indah, melainkan dengan serangan beruntun yang penuh harga diri terluka. Sapuan atas, tusuk rendah, putaran baling ke rusuk, lalu tebasan balik ke leher. Rong Tian membiarkannya. Ia membiarkan Han Que meluapkan semua rasa takutnya menjadi serangan. Setiap sapuan lewat terlalu dekat untuk orang biasa. Setiap tusukan cukup tajam untuk membelah tiang lapak. Tapi tiap kali bilah itu sampai ke titik yang seharusnya melukai, Rong Tian sudah tidak lagi ada di sana, atau lebih tepatnya, sudah berada sepersekian napas lebih dulu di tempat Han Que tidak sanggup jaga.&
Mehr lesen