“Apa ini?”Suara Kaisar terdengar rendah, ditekan kuat-kuat, namun amarah di dalamnya tetap tidak dapat disembunyikan. Aula perjamuan yang semula dipenuhi alunan musik dan percakapan terhenti perlahan, seolah semua orang menyadari bahwa badai tengah terkumpul tepat di hadapan singgasana.Wajar saja.Di perayaan ulang tahunnya—hari yang seharusnya dipenuhi warna cerah, doa panjang umur, dan sukacita—salah satu selir kehormatannya justru hadir mengenakan hanfu putih berduka. Warna yang di dunia istana sama artinya dengan kematian. Lebih buruk lagi, kematian seorang Kaisar.Itu seperti sebuah kutukan yang dipamerkan tanpa rasa takut.Selir Shofia segera berlutut. Lututnya menghantam lantai marmer dengan bunyi keras, tubuhnya bergetar hebat. Air mata jatuh satu per satu, membasahi lengan bajunya.“Hukumlah Selir ini, Yang Mulia!” serunya dengan suara pecah. “Hukumlah saya!”Pangeran Keempat, Deon, yang te
Terakhir Diperbarui : 2026-02-19 Baca selengkapnya