Diana melangkah masuk ke gedung Ruyi dengan wajah pucat dan lesu, seolah separuh jiwanya telah tersedot habis bersama hilangnya Putra Mahkota. Gaunnya sederhana, tanpa perhiasan mencolok, hanya menyisakan bayangan seorang istri yang dilanda duka.Sapu tangan bersulam burung phoenix di tangannya sibuk mengelap pipinya, seolah air mata tak kunjung berhenti turun sejak pagi. Para pelayan dan pekerja Ruyi yang melihatnya segera menunduk hormat, beberapa memasang wajah iba.“Putri…” bisik salah satu gadis peracik obat.Namun Diana hanya mengangguk lemah, melangkah melewati mereka menuju bagian paling dalam gedung.Baru setelah pintu kayu tebal di ruang terdalam tertutup, langkahnya berhenti.Ia menoleh waspada ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti atau mengawasinya.Embun yang sedari tadi mengikutinya segera berkata pelan, “Sudah aman, Putri.”Diana terdiam beberapa detik lagi, mengamati setiap sudut ruangan.Baru setelah yakin, bibirnya melengkung tipis.Sapu tangan phoenix i
Read more