بيت / Zaman Kuno / Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa / Bab 144. Harga Sebuah Pengkhianatan

مشاركة

Bab 144. Harga Sebuah Pengkhianatan

مؤلف: nanadvelyns
last update تاريخ النشر: 2026-02-20 00:02:33

Acara perayaan ulang tahun Kaisar terpaksa dihentikan malam itu.

Tidak ada kembang api. Tidak ada tawa lanjutan. Tidak ada musik penutup.

Yang tersisa hanyalah keterkejutan yang menumpuk di wajah para bangsawan, para selir, dan keluarga kerajaan yang dipaksa meninggalkan Istana dengan kepala penuh pertanyaan serta rasa dingin yang merayap sampai ke tulang.

Satu per satu kereta kuda meninggalkan halaman Istana Kaisar, membawa pergi para tamu dengan bisikan yang tak
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 272. Pion Baru

    Denada melangkah menyusuri selasar panjang yang menghubungkan paviliun utama dengan kediaman Isabella. Jubah mantelnya yang berwarna kelabu kebiruan menyapu lantai marmer dengan suara seretan halus yang ritmis. Di belakangnya, Cucu berjalan dengan kepala tertunduk, membawa kotak obat kecil yang berisi ramuan pemulih luka. Dan tepat di samping mereka, berdiri sosok yang kini seolah menjadi bayangan tak terpisahkan dari Denada, Althaf Rumi. Althaf melangkah dengan ketegasan yang tak tergoyahkan. Zirah ringannya berkilauan meski cahaya matahari terhalang kabut, dan tangan kanannya selalu siaga di dekat gagang pedang. Sejak kejadian di ruang kerja tempo hari, Alon seolah memberikan instruksi mutlak agar ksatria ini menjadi pengawal pribadi Denada. Denada sering mencuri pandang ke arah pria di sampingnya itu, bertanya-tengah dalam hati, apakah Alon benar-benar ingin melindunginya karena rasa "cinta" obsesifnya yang palsu, ataukah Althaf sebenarnya adalah mata-mata paling berbahaya

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 271. Tamparan di Atas Hamparan Salju

    Diana melangkah keluar dari lingkaran tirai peraduan Arthur. Aroma obat-obatan yang tajam masih menempel di ujung hidungnya, bercampur dengan aroma dupa krisan yang menenangkan. Namun, belum sempat ia melintasi ambang pintu untuk menuju selasar istana, sebuah tarikan lembut namun erat menahan pergelangan tangannya. Diana berhenti dan menoleh perlahan. Di atas ranjang, Sang Kaisar yang baru saja bersandiwara menderita luka parah meskipun keningnya memang benar-benar terluka itu kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah tatapan yang penuh dengan tuntutan perhatian yang kekanakan di balik topeng wibawanya. "Kau juga ingin pergi?" tanya Arthur. Suaranya rendah, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus merajuk lebih jauh atau tetap pada skenario "sakit parah"-nya. Diana menatap tangan Arthur yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap wajah suaminya itu dengan tatapan datar yang menusuk. "Bukankah sakit Yang Mulia cukup parah? Menurut diagnosa tabib tadi, And

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 270. Sandiwara Luka dan Siasat yang Gagal

    Diana melangkah dengan martabat seorang Permaisuri yang tak tergoyahkan. Meskipun perutnya yang besar membuatnya harus berjalan lebih lambat dan hati-hati, aura otoritas yang dipancarkannya justru semakin tajam. Di halaman depan istana, pemandangan yang tidak biasa tersaji. Belasan selir dari berbagai tingkatan sudah berlutut gemetar di atas lantai marmer yang keras. Wajah mereka tertunduk dalam, tangan-tangan mereka saling bertaut erat, dan isak tangis kecil terdengar samar di antara desau angin.Diana mengerutkan keningnya dalam-dalam. Matanya menyapu barisan wanita-wanita cantik yang kini tampak seperti pesakitan itu. Perasaan jengkel mulai merayap di dadanya. Drama apa lagi yang diciptakan pria itu hari ini? batinnya ketus. Tanpa memberikan sepatah kata pun pada para selir yang ketakutan itu, Diana melanjutkan langkahnya masuk ke dalam istana, diikuti oleh Embun yang selalu sigap di belakangnya.Begitu memasuki ruang peraduan Kaisar, aroma obat-obatan herbal yang sangat menyen

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 269. Stempel Giok

    Keheningan yang mencekam segera menyelimuti ruang kerja Alon begitu derap langkah sang Kaisar menghilang di balik pintu mahoni yang berat. Denada masih terduduk di atas meja jati yang berantakan, napasnya perlahan mulai teratur, namun tatapannya kosong menatap dinding pualam yang dingin. Dengan gerakan pelan, Denada turun dari meja. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin, mengirimkan sensasi menggigil ke seluruh tubuhnya. Ia mulai memunguti helai demi helai pakaiannya yang berserakan—sutra hitam yang koyak di beberapa bagian, ikat pinggang yang terlempar jauh, dan jubah luar yang tergeletak malang. Ia memakainya kembali dengan tangan yang stabil, mengancingkan setiap simpul dengan ketelitian yang menakutkan. Tidak ada pelayan yang membantu, dan ia memang tidak menginginkan siapa pun melihat sisa-sisa "pertempuran" yang baru saja ia lalui.Setelah pakaiannya rapi kembali, Denada tidak segera beranjak pergi. Ia menunduk, menatap dokumen-dokumen yang tadi menjadi

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 268. Racun di Balik Desahan

    Langkah kaki Denada bergema lirih saat ia memasuki ruang kerja utama Alon. Ruangan itu adalah jantung dari Kekaisaran Delore, tempat di mana setiap perintah berdarah bermula dan setiap nasib ditentukan. Udara di dalamnya terasa berat, dipenuhi aroma tajam tinta hitam, kayu jati tua, dan wangi lilin lebah yang menyala temaram. Alon duduk di balik meja besarnya yang megah, bayangannya tampak memanjang di dinding pualam, menciptakan kesan sosok predator yang sedang mengawasi wilayah kekuasaannya. Pria itu tampak sedingin es, wajahnya yang tampan namun keras tidak menunjukkan emosi sedikit pun saat matanya bertemu dengan tatapan Denada."Kemari," perintah Alon singkat. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.Denada melangkah mendekat dengan kepala tertunduk patuh. Mantelnya yang berbulu lebat telah ia lepaskan di luar, menyisakan gaun sutra tipis yang melekat pada tubuhnya yang ramping. Di balik ketenangan wajahnya, jantung Denada berdegup kencang, namun buka

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 267. Getar di Balik Dinginnya Salju

    Di dalam paviliunnya yang kini terasa jauh lebih lapang setelah hukuman dicabut, Denada duduk di dekat jendela, menyesap teh melati yang sudah mendingin. Matanya menatap kosong ke arah taman, namun pikirannya mengembara pada bait-bait strategi yang ia susun bersama Isabella. Suasana hening itu pecah ketika Cucu masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan—antara cemas dan sesuatu yang menyerupai rasa kagum yang tertahan."Yang Mulia," bisik Cucu, membungkuk dalam. "Ksatria Althaf Rumi ada di depan. Beliau membawa pesan dari Yang Mulia Kaisar."Denada meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi denting halus. Nama itu, entah mengapa, memicu getaran kecil di ulu hatinya yang ia pikir sudah mati rasa. Ia merapikan jubah mantel berbulu rubah peraknya, lalu berdiri dengan anggun. "Persilakan dia masuk."Pintu terbuka, dan sosok Althaf muncul. Pria itu tampak seperti bagian dari musim dingin itu sendiri—dingin, kokoh, dan tak tergoyahkan. Zirah ke

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 99. Rumor, Krim Kecantikan, dan Dukungan yang Tak Terduga

    Kediaman Diana hari itu tampak jauh lebih sibuk dibandingkan biasanya. Sejak pagi buta, aroma herbal memenuhi hampir setiap sudut halaman dalam, bercampur dengan wangi bunga kering dan minyak alami yang sedang dipanaskan perlahan. Setelah memastikan obat-obatan untuk Pangeran

    last updateآخر تحديث : 2026-03-27
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 105. Gulungan Darah

    Istana Harsa diselimuti keheningan yang berat ketika mereka tiba. Tidak ada musik, tidak ada tawa pelayan, bahkan langkah kaki pun terdengar samar seolah semua orang di dalam istana itu sengaja menahan napas. Duka masih menggantung pekat, bercampur dengan rasa malu dan kemarahan yang belum menemu

    last updateآخر تحديث : 2026-03-27
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 101. Bayang-Bayang di Balik Dinding Istana

    Diana duduk tenang di balik meja kayu cendana yang permukaannya dipenuhi lembaran kertas, buku catatan tebal, dan beberapa papan kayu tipis bertuliskan angka-angka pengeluaran. Sinar matahari sore menembus kisi jendela tinggi, jatuh tepat di ujung jemarinya yang sedang memegang kuas kecil, sesekal

    last updateآخر تحديث : 2026-03-27
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 97. Mimpi Api di Balik Takhta

    “Anak pembawa sial, Permaisuri meninggal karenanya!”“Untuk apa diperhatikan? Apa Kaisar benar-benar akan mempertahankan gelar Putra Mahkota miliknya? Kekaisaran kita hanya akan ditertawakan pihak luar jika memiliki Kaisar berwajah cacat sepertinya!”“Kau, gunakan obat ini pada wajahnya. Jangan sam

    last updateآخر تحديث : 2026-03-26
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status