Home / Zaman Kuno / Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa / Bab 144. Harga Sebuah Pengkhianatan

Share

Bab 144. Harga Sebuah Pengkhianatan

Author: nanadvelyns
last update publish date: 2026-02-20 00:02:33

Acara perayaan ulang tahun Kaisar terpaksa dihentikan malam itu.

Tidak ada kembang api. Tidak ada tawa lanjutan. Tidak ada musik penutup.

Yang tersisa hanyalah keterkejutan yang menumpuk di wajah para bangsawan, para selir, dan keluarga kerajaan yang dipaksa meninggalkan Istana dengan kepala penuh pertanyaan serta rasa dingin yang merayap sampai ke tulang.

Satu per satu kereta kuda meninggalkan halaman Istana Kaisar, membawa pergi para tamu dengan bisikan yang tak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 269. Stempel Giok

    Keheningan yang mencekam segera menyelimuti ruang kerja Alon begitu derap langkah sang Kaisar menghilang di balik pintu mahoni yang berat. Denada masih terduduk di atas meja jati yang berantakan, napasnya perlahan mulai teratur, namun tatapannya kosong menatap dinding pualam yang dingin. Dengan gerakan pelan, Denada turun dari meja. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin, mengirimkan sensasi menggigil ke seluruh tubuhnya. Ia mulai memunguti helai demi helai pakaiannya yang berserakan—sutra hitam yang koyak di beberapa bagian, ikat pinggang yang terlempar jauh, dan jubah luar yang tergeletak malang. Ia memakainya kembali dengan tangan yang stabil, mengancingkan setiap simpul dengan ketelitian yang menakutkan. Tidak ada pelayan yang membantu, dan ia memang tidak menginginkan siapa pun melihat sisa-sisa "pertempuran" yang baru saja ia lalui.Setelah pakaiannya rapi kembali, Denada tidak segera beranjak pergi. Ia menunduk, menatap dokumen-dokumen yang tadi menjadi

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 268. Racun di Balik Desahan

    Langkah kaki Denada bergema lirih saat ia memasuki ruang kerja utama Alon. Ruangan itu adalah jantung dari Kekaisaran Delore, tempat di mana setiap perintah berdarah bermula dan setiap nasib ditentukan. Udara di dalamnya terasa berat, dipenuhi aroma tajam tinta hitam, kayu jati tua, dan wangi lilin lebah yang menyala temaram. Alon duduk di balik meja besarnya yang megah, bayangannya tampak memanjang di dinding pualam, menciptakan kesan sosok predator yang sedang mengawasi wilayah kekuasaannya. Pria itu tampak sedingin es, wajahnya yang tampan namun keras tidak menunjukkan emosi sedikit pun saat matanya bertemu dengan tatapan Denada."Kemari," perintah Alon singkat. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.Denada melangkah mendekat dengan kepala tertunduk patuh. Mantelnya yang berbulu lebat telah ia lepaskan di luar, menyisakan gaun sutra tipis yang melekat pada tubuhnya yang ramping. Di balik ketenangan wajahnya, jantung Denada berdegup kencang, namun buka

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 267. Getar di Balik Dinginnya Salju

    Di dalam paviliunnya yang kini terasa jauh lebih lapang setelah hukuman dicabut, Denada duduk di dekat jendela, menyesap teh melati yang sudah mendingin. Matanya menatap kosong ke arah taman, namun pikirannya mengembara pada bait-bait strategi yang ia susun bersama Isabella. Suasana hening itu pecah ketika Cucu masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan—antara cemas dan sesuatu yang menyerupai rasa kagum yang tertahan."Yang Mulia," bisik Cucu, membungkuk dalam. "Ksatria Althaf Rumi ada di depan. Beliau membawa pesan dari Yang Mulia Kaisar."Denada meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi denting halus. Nama itu, entah mengapa, memicu getaran kecil di ulu hatinya yang ia pikir sudah mati rasa. Ia merapikan jubah mantel berbulu rubah peraknya, lalu berdiri dengan anggun. "Persilakan dia masuk."Pintu terbuka, dan sosok Althaf muncul. Pria itu tampak seperti bagian dari musim dingin itu sendiri—dingin, kokoh, dan tak tergoyahkan. Zirah ke

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 266. Wasiat Sang Phoenix di Ambang Badai

    Di tengah ruangan yang tenang itu, Diana duduk dengan punggung tegak, meskipun berat kandungannya membuat setiap posisinya terasa sedikit melelahkan. Matanya yang tenang menatap ke depan, menanti sosok yang paling ia percayai dalam urusan birokrasi negara.Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok pria paruh baya dengan jubah resmi yang menunjukkan martabat tinggi. Perdana Menteri Mahen melangkah masuk dengan langkah kaki yang terukur, kepalanya tertunduk penuh rasa hormat. Begitu ia tiba di hadapan Diana, ia segera membungkukkan tubuhnya dalam-dalam."Anda memanggil saya, Yang Mulia?" ucap Perdana Menteri Mahen dengan suara yang berat namun penuh pengabdian.Diana menyunggingkan senyum tipis yang tulus. Ia memberikan isyarat dengan tangannya yang halus agar pria itu bangkit dari bungkukkannya. "Bangkitlah, Perdana Menteri. Dan silakan duduk. Maaf jika panggilan saya pagi ini terasa terlalu mendadak dan mungkin mengganggu jadwal majelis Anda bersama Kaisar."Perdana Menteri Mahen me

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 265. Cinta yang Megah

    Denada melangkah keluar dari paviliun Isabella dengan langkah yang jauh lebih mantap daripada saat ia masuk. Di balik lapisan hanfu hitamnya yang tebal, ia bisa merasakan gesekan halus dari gulungan kertas yang disembunyikan di balik pakaiannya—sebuah benda yang lebih berat dari emas, karena di dalamnya tertulis garis besar kehancuran pria-pria yang telah menghancurkan hidupnya.Kertas itu bukan sekadar daftar nama, itu adalah kunci menuju sebuah pintu terlarang. Isabella telah memberikannya daftar orang-orang di tanah Debi yang bisa ia hubungi.Namun, Denada masih merasa ini belum cukup. Sembari melangkah menyusuri selasar yang sepi, matanya menatap lurus ke depan, hampa namun penuh perhitungan.Cucu mengikuti di belakangnya dengan langkah kecil yang terburu-buru, kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan kecemasannya dari mata-mata istana yang mungkin mengintip dari balik pilar. Sementara itu, Althaf Rumi tidak lagi berada di sisi mereka, ksatria itu telah kembali ke barak utama

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 264. Bidak yang Berganti Peran

    Denada melangkah dengan terburu-buru, jubah mantelnya berkibar tertiup angin, sementara tangannya menggenggam erat ujung kainnya. Hatinya tidak tenang. Meskipun ia baru saja berhasil meredakan amarah Alon dan membebaskan Isabella dari tuduhan pengkhianatan berat, rasa sesak di dadanya justru semakin menguat.Alon telah mengizinkannya pergi dengan lambaian tangan yang meremehkan, seolah-olah pengampunan yang diberikannya adalah sebuah kado murah yang bisa ditarik kembali kapan saja. Denada tahu benar watak pria itu, Alon tidak pernah benar-benar mengampuni. Jika pria itu membiarkan Isabella pergi dari hadapannya, pasti ada sesuatu yang tertinggal.Langkah kaki Denada bergema kaku di lantai koridor saat ia mendekati paviliun kediaman Isabella. Tempat itu kini tampak begitu sepi, hanya dijaga oleh dua pengawal yang menatapnya dengan pandangan kosong. Tanpa menunggu pengumuman, Denada mendorong pintu kayu berat itu. Begitu ia melangkah masuk, aroma dupa krisan yang biasanya menenangk

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 129. Malam Ketika Bunga Dipetik Paksa

    Karin membuka matanya dengan sentakan tajam. Jantungnya berdegup keras bahkan sebelum telinganya benar-benar menangkap apa yang sedang terjadi. Udara di kamarnya terasa aneh—terlalu dingin, terlalu sunyi, seolah seluruh Istana menahan napas. Lalu suara itu terdengar lagi. Denting logam. Lang

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 130. Benih Dendam di Balik Perlindungan

    Bangunan kayu itu berdiri sunyi di tengah hutan, sederhana dan nyaris tak mencolok jika tidak tahu keberadaannya. Dindingnya terbuat dari papan kayu tua yang tersusun rapi, atapnya rendah, dan hanya ada satu lentera kecil yang tergantung di depan pintu, memancarkan cahaya kuning temaram. Tempa

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 126. Saling Menjaga

    Keesokan paginya, cahaya matahari musim dingin menyelinap lembut ke dalam ruang makan Istana Putra Mahkota. Uap tipis mengepul dari hidangan hangat yang tersaji rapi di atas meja panjang, aroma kaldu dan daging panggang bercampur dengan wangi teh pagi yang menenangkan. Namun k

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 133. Bakti Manis dan Darah yang Menyusul

    Diana dan Arthur melangkah masuk ke dalam aula kediaman Kaisar dengan langkah seirama. Begitu berada di hadapan singgasana, keduanya berhenti bersamaan dan membungkuk rapi, gerakan mereka selaras seolah telah dilatih berkali-kali.“Salam hormat kepada Yang Mulia Kaisar.”Suara mereka menyatu, form

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status