ホーム / Zaman Kuno / Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa / Bab 144. Harga Sebuah Pengkhianatan

共有

Bab 144. Harga Sebuah Pengkhianatan

作者: nanadvelyns
last update 公開日: 2026-02-20 00:02:33

Acara perayaan ulang tahun Kaisar terpaksa dihentikan malam itu.

Tidak ada kembang api. Tidak ada tawa lanjutan. Tidak ada musik penutup.

Yang tersisa hanyalah keterkejutan yang menumpuk di wajah para bangsawan, para selir, dan keluarga kerajaan yang dipaksa meninggalkan Istana dengan kepala penuh pertanyaan serta rasa dingin yang merayap sampai ke tulang.

Satu per satu kereta kuda meninggalkan halaman Istana Kaisar, membawa pergi para tamu dengan bisikan yang tak
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 271. Tamparan di Atas Hamparan Salju

    Diana melangkah keluar dari lingkaran tirai peraduan Arthur. Aroma obat-obatan yang tajam masih menempel di ujung hidungnya, bercampur dengan aroma dupa krisan yang menenangkan. Namun, belum sempat ia melintasi ambang pintu untuk menuju selasar istana, sebuah tarikan lembut namun erat menahan pergelangan tangannya.Diana berhenti dan menoleh perlahan. Di atas ranjang, Sang Kaisar yang baru saja bersandiwara menderita luka parah meskipun keningnya memang benar-benar terluka itu kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah tatapan yang penuh dengan tuntutan perhatian yang kekanakan di balik topeng wibawanya."Kau juga ingin pergi?" tanya Arthur. Suaranya rendah, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus merajuk lebih jauh atau tetap pada skenario "sakit parah"-nya.Diana menatap tangan Arthur yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap wajah suaminya itu dengan tatapan datar yang menusuk. "Bukankah sakit Yang Mulia cukup parah? Menurut diagnosa tabib tadi, Anda butuh

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 270. Sandiwara Luka dan Siasat yang Gagal

    Diana melangkah dengan martabat seorang Permaisuri yang tak tergoyahkan. Meskipun perutnya yang besar membuatnya harus berjalan lebih lambat dan hati-hati, aura otoritas yang dipancarkannya justru semakin tajam. Di halaman depan istana, pemandangan yang tidak biasa tersaji. Belasan selir dari berbagai tingkatan sudah berlutut gemetar di atas lantai marmer yang keras. Wajah mereka tertunduk dalam, tangan-tangan mereka saling bertaut erat, dan isak tangis kecil terdengar samar di antara desau angin.Diana mengerutkan keningnya dalam-dalam. Matanya menyapu barisan wanita-wanita cantik yang kini tampak seperti pesakitan itu. Perasaan jengkel mulai merayap di dadanya. Drama apa lagi yang diciptakan pria itu hari ini? batinnya ketus. Tanpa memberikan sepatah kata pun pada para selir yang ketakutan itu, Diana melanjutkan langkahnya masuk ke dalam istana, diikuti oleh Embun yang selalu sigap di belakangnya.Begitu memasuki ruang peraduan Kaisar, aroma obat-obatan herbal yang sangat menyen

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 269. Stempel Giok

    Keheningan yang mencekam segera menyelimuti ruang kerja Alon begitu derap langkah sang Kaisar menghilang di balik pintu mahoni yang berat. Denada masih terduduk di atas meja jati yang berantakan, napasnya perlahan mulai teratur, namun tatapannya kosong menatap dinding pualam yang dingin. Dengan gerakan pelan, Denada turun dari meja. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin, mengirimkan sensasi menggigil ke seluruh tubuhnya. Ia mulai memunguti helai demi helai pakaiannya yang berserakan—sutra hitam yang koyak di beberapa bagian, ikat pinggang yang terlempar jauh, dan jubah luar yang tergeletak malang. Ia memakainya kembali dengan tangan yang stabil, mengancingkan setiap simpul dengan ketelitian yang menakutkan. Tidak ada pelayan yang membantu, dan ia memang tidak menginginkan siapa pun melihat sisa-sisa "pertempuran" yang baru saja ia lalui.Setelah pakaiannya rapi kembali, Denada tidak segera beranjak pergi. Ia menunduk, menatap dokumen-dokumen yang tadi menjadi

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 268. Racun di Balik Desahan

    Langkah kaki Denada bergema lirih saat ia memasuki ruang kerja utama Alon. Ruangan itu adalah jantung dari Kekaisaran Delore, tempat di mana setiap perintah berdarah bermula dan setiap nasib ditentukan. Udara di dalamnya terasa berat, dipenuhi aroma tajam tinta hitam, kayu jati tua, dan wangi lilin lebah yang menyala temaram. Alon duduk di balik meja besarnya yang megah, bayangannya tampak memanjang di dinding pualam, menciptakan kesan sosok predator yang sedang mengawasi wilayah kekuasaannya. Pria itu tampak sedingin es, wajahnya yang tampan namun keras tidak menunjukkan emosi sedikit pun saat matanya bertemu dengan tatapan Denada."Kemari," perintah Alon singkat. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.Denada melangkah mendekat dengan kepala tertunduk patuh. Mantelnya yang berbulu lebat telah ia lepaskan di luar, menyisakan gaun sutra tipis yang melekat pada tubuhnya yang ramping. Di balik ketenangan wajahnya, jantung Denada berdegup kencang, namun buka

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 267. Getar di Balik Dinginnya Salju

    Di dalam paviliunnya yang kini terasa jauh lebih lapang setelah hukuman dicabut, Denada duduk di dekat jendela, menyesap teh melati yang sudah mendingin. Matanya menatap kosong ke arah taman, namun pikirannya mengembara pada bait-bait strategi yang ia susun bersama Isabella. Suasana hening itu pecah ketika Cucu masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan—antara cemas dan sesuatu yang menyerupai rasa kagum yang tertahan."Yang Mulia," bisik Cucu, membungkuk dalam. "Ksatria Althaf Rumi ada di depan. Beliau membawa pesan dari Yang Mulia Kaisar."Denada meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi denting halus. Nama itu, entah mengapa, memicu getaran kecil di ulu hatinya yang ia pikir sudah mati rasa. Ia merapikan jubah mantel berbulu rubah peraknya, lalu berdiri dengan anggun. "Persilakan dia masuk."Pintu terbuka, dan sosok Althaf muncul. Pria itu tampak seperti bagian dari musim dingin itu sendiri—dingin, kokoh, dan tak tergoyahkan. Zirah ke

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 266. Wasiat Sang Phoenix di Ambang Badai

    Di tengah ruangan yang tenang itu, Diana duduk dengan punggung tegak, meskipun berat kandungannya membuat setiap posisinya terasa sedikit melelahkan. Matanya yang tenang menatap ke depan, menanti sosok yang paling ia percayai dalam urusan birokrasi negara.Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok pria paruh baya dengan jubah resmi yang menunjukkan martabat tinggi. Perdana Menteri Mahen melangkah masuk dengan langkah kaki yang terukur, kepalanya tertunduk penuh rasa hormat. Begitu ia tiba di hadapan Diana, ia segera membungkukkan tubuhnya dalam-dalam."Anda memanggil saya, Yang Mulia?" ucap Perdana Menteri Mahen dengan suara yang berat namun penuh pengabdian.Diana menyunggingkan senyum tipis yang tulus. Ia memberikan isyarat dengan tangannya yang halus agar pria itu bangkit dari bungkukkannya. "Bangkitlah, Perdana Menteri. Dan silakan duduk. Maaf jika panggilan saya pagi ini terasa terlalu mendadak dan mungkin mengganggu jadwal majelis Anda bersama Kaisar."Perdana Menteri Mahen me

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 173. Untuk Dinasti dan Kekaisaran Norvenia

    Harsa melangkah dengan tergesa ke halaman belakang istananya, jubah panjangnya terseret angin sore yang mulai menggigit. Langkahnya yang semula cepat perlahan melambat ketika sosok berbalut mantel putih itu memasuki pandangannya. Diana berdiri membelakanginya, rambut hitamnya terurai rapi dengan

    last update最終更新日 : 2026-04-04
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 160. Seribu Tael atau Kepala Naga

    “Bagaimana bisa Putra Mahkota diculik?!”Suara Kaisar menggema keras di aula dalam istana kekaisaran.BRAK!Telapak tangannya menghantam meja kayu ukir hingga tinta di atasnya bergetar. Wajahnya yang biasanya penuh wibawa kini tampak tegang dan panik. Garis-garis usia di dahinya semakin dalam, me

    last update最終更新日 : 2026-04-02
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 156. Dua Zat yang Tak Seharusnya Bersatu

    “Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena di

    last update最終更新日 : 2026-04-02
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 154. Pukulan Telak di Bawah Matahari Siang

    Setelah segala persiapan selesai, Diana melangkah keluar dari paviliunnya dengan langkah mantap. Gaun hanfu berwarna biru pucat yang dikenakannya tampak sederhana, namun potongannya elegan dan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi tusuk ram

    last update最終更新日 : 2026-04-02
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status