/ Zaman Kuno / Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa / Bab 144. Harga Sebuah Pengkhianatan

공유

Bab 144. Harga Sebuah Pengkhianatan

작가: nanadvelyns
last update 게시일: 2026-02-20 00:02:33

Acara perayaan ulang tahun Kaisar terpaksa dihentikan malam itu.

Tidak ada kembang api. Tidak ada tawa lanjutan. Tidak ada musik penutup.

Yang tersisa hanyalah keterkejutan yang menumpuk di wajah para bangsawan, para selir, dan keluarga kerajaan yang dipaksa meninggalkan Istana dengan kepala penuh pertanyaan serta rasa dingin yang merayap sampai ke tulang.

Satu per satu kereta kuda meninggalkan halaman Istana Kaisar, membawa pergi para tamu dengan bisikan yang tak
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 265. Cinta yang Megah

    Denada melangkah keluar dari paviliun Isabella dengan langkah yang jauh lebih mantap daripada saat ia masuk. Di balik lapisan hanfu hitamnya yang tebal, ia bisa merasakan gesekan halus dari gulungan kertas yang disembunyikan di balik pakaiannya—sebuah benda yang lebih berat dari emas, karena di dalamnya tertulis garis besar kehancuran pria-pria yang telah menghancurkan hidupnya.Kertas itu bukan sekadar daftar nama, itu adalah kunci menuju sebuah pintu terlarang. Isabella telah memberikannya daftar orang-orang di tanah Debi yang bisa ia hubungi.Namun, Denada masih merasa ini belum cukup. Sembari melangkah menyusuri selasar yang sepi, matanya menatap lurus ke depan, hampa namun penuh perhitungan.Cucu mengikuti di belakangnya dengan langkah kecil yang terburu-buru, kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan kecemasannya dari mata-mata istana yang mungkin mengintip dari balik pilar. Sementara itu, Althaf Rumi tidak lagi berada di sisi mereka, ksatria itu telah kembali ke barak utama

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 264. Bidak yang Berganti Peran

    Denada melangkah dengan terburu-buru, jubah mantelnya berkibar tertiup angin, sementara tangannya menggenggam erat ujung kainnya. Hatinya tidak tenang. Meskipun ia baru saja berhasil meredakan amarah Alon dan membebaskan Isabella dari tuduhan pengkhianatan berat, rasa sesak di dadanya justru semakin menguat.Alon telah mengizinkannya pergi dengan lambaian tangan yang meremehkan, seolah-olah pengampunan yang diberikannya adalah sebuah kado murah yang bisa ditarik kembali kapan saja. Denada tahu benar watak pria itu, Alon tidak pernah benar-benar mengampuni. Jika pria itu membiarkan Isabella pergi dari hadapannya, pasti ada sesuatu yang tertinggal.Langkah kaki Denada bergema kaku di lantai koridor saat ia mendekati paviliun kediaman Isabella. Tempat itu kini tampak begitu sepi, hanya dijaga oleh dua pengawal yang menatapnya dengan pandangan kosong. Tanpa menunggu pengumuman, Denada mendorong pintu kayu berat itu. Begitu ia melangkah masuk, aroma dupa krisan yang biasanya menenangk

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 263. Isabella Ketahuan?

    Di atas meja batu, asap tipis membumbung dari cangkir susu jahe yang pedas-manis, menemani piring berisi bakpao daging yang masih mengepulkan uap hangat. Denada menyesap minumannya perlahan, merasakan panas jahe menjalar ke kerongkongannya, mencoba mengusir sisa-sisa rasa dingin yang seolah telah mengerak di tulang-tulangnya. Cucu, di sisi lain, tampak sangat menikmati suasananya. Ia memakan bakpao dengan lahap, pipinya menggembung lucu sementara ia terus mengoceh tentang betapa empuknya adonan tepung tersebut. Sesekali Denada tersenyum tipis melihat tingkah pelayan setianya itu. Baginya, momen sederhana seperti ini adalah kemewahan langka di tengah badai intrik yang mengepung hidupnya. Namun, suasana santai itu tidak menular pada Althaf Rumi. Ksatria itu tetap berdiri tegak di luar Gazebo, punggungnya lurus seperti tombak, dan tangannya tidak pernah lepas dari gagang pedang. Ia menolak dengan sopan saat Denada menawarinya susu jahe, lebih memilih untuk tetap menjadi patung

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 262. Jejak di Atas Pualam Putih

    Denada melangkah perlahan menyusuri jalan setapak taman istana yang sudah dibersihkan dari tumpukan salju semalam. Di belakangnya, Althaf Rumi mengikuti dengan jarak yang sangat terukur. Pria itu bergerak dengan efisiensi seorang prajurit sejati, tidak ada suara gesekan zirah yang berlebihan, tidak ada langkah kaki yang ceroboh. Althaf benar-benar menyerupai sebuah robot atau patung hidup yang hanya memiliki satu fungsi: melindungi tanpa suara.Kehadiran Althaf yang begitu kaku terkadang membuat Denada merasa canggung, namun di sisi lain, ada stabilitas yang tidak pernah ia rasakan dari pengawal Alon yang lain. Ksatria ini tidak menatapnya dengan pandangan merendahkan atau penuh nafsu terselubung. Althaf hanya... ada di sana.Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah gazebo tua yang terletak di sudut paling terpencil di taman belakang Harem. Gazebo itu terbuat dari kayu hitam yang dipoles hingga mengilap, dikelilingi oleh barisan pohon plum yang mulai menampakkan kuncup-kuncup bunga

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 261. Permaisurimu Satu-Satunya

    "Maafkan aku," ucap Arthur pelan, suaranya parau dan sedikit pecah. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang entah mengapa terasa lebih sulit dicari daripada saat memimpin ribuan pasukan. "Alih-alih datang untuk meminta maaf padamu dengan benar, aku justru meledak marah dan membentakmu semalam. Maafkan aku, Diana. Saat itu... aku merasa bingung dan sangat marah pada diriku sendiri, juga padamu."Arthur berhenti sejenak, lalu mendongak sedikit untuk melirik reaksi Diana, meski ia segera menunduk kembali saat melihat ketenangan wajah istrinya. "Menurutku, seharusnya kau merasa senang atau setidaknya sedikit bangga karena aku berusaha menghindari mereka mati-matian hanya untuk menjaga kesetiaanku padamu. Namun, responmu yang justru memarahiku dan menganggap tindakanku ceroboh... itu membuatku berpikir bahwa kau tidak lagi memedulikanku. Aku berpikir jika kau tidak mencintaiku lagi, maka kau tidak akan keberatan mengirimku ke ranjang wanita lain sesering mungkin."Di

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 260. Kewajiban Petinggi dan Suami

    Aroma teh melati yang mengepul hangat dari cangkir porselen di tangan Diana seharusnya mampu memberikan ketenangan, namun suasana di paviliun pagi itu justru terasa gerah karena tumpahan emosi yang belum juga mereda. Di hadapannya, Rany masih mengoceh tanpa henti. Mantan kepala penjaga bayangan pribadinya itu, yang kini telah menjadi nyonya rumah dari kediaman Jenderal Sai, tampak benar-benar meledak. Ia menceritakan setiap detail kabar burung yang sampai ke telinganya, menyeka sudut matanya yang kering namun penuh amarah, dan sesekali memukul meja kecil di sampingnya untuk menekankan betapa hancurnya martabatnya sebagai seorang istri.Diana menyesap tehnya dengan tenang, matanya menatap permukaan air yang jernih sembari mendengarkan ocehan Rany. Ia tidak menyela, sebab ia tahu Rany hanya butuh wadah untuk mengeluarkan racun di hatinya. Namun, jauh di lubuk hati Diana, ia pun merasakan denyut pening yang serupa. Para pria di sekelilingnya benar-benar sedang berada di fase yang san

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 185. Perjamuan yang Berdarah

    Hari perjamuan pangan akhirnya tiba.Sejak pagi, Istana Kekaisaran Norvenia sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan hilir mudik membawa nampan makanan, kain meja baru dibentangkan, lentera-lentera emas digantung rapi di sepanjang koridor menuju Aula Utama.Namun bagi Diana, hari ini bukan sekadar p

    last update최신 업데이트 : 2026-04-05
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 173. Untuk Dinasti dan Kekaisaran Norvenia

    Harsa melangkah dengan tergesa ke halaman belakang istananya, jubah panjangnya terseret angin sore yang mulai menggigit. Langkahnya yang semula cepat perlahan melambat ketika sosok berbalut mantel putih itu memasuki pandangannya. Diana berdiri membelakanginya, rambut hitamnya terurai rapi dengan

    last update최신 업데이트 : 2026-04-04
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 160. Seribu Tael atau Kepala Naga

    “Bagaimana bisa Putra Mahkota diculik?!”Suara Kaisar menggema keras di aula dalam istana kekaisaran.BRAK!Telapak tangannya menghantam meja kayu ukir hingga tinta di atasnya bergetar. Wajahnya yang biasanya penuh wibawa kini tampak tegang dan panik. Garis-garis usia di dahinya semakin dalam, me

    last update최신 업데이트 : 2026-04-02
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 156. Dua Zat yang Tak Seharusnya Bersatu

    “Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena di

    last update최신 업데이트 : 2026-04-02
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status