Home / Zaman Kuno / Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa / Bab 144. Harga Sebuah Pengkhianatan

Share

Bab 144. Harga Sebuah Pengkhianatan

Author: nanadvelyns
last update publish date: 2026-02-20 00:02:33

Acara perayaan ulang tahun Kaisar terpaksa dihentikan malam itu.

Tidak ada kembang api. Tidak ada tawa lanjutan. Tidak ada musik penutup.

Yang tersisa hanyalah keterkejutan yang menumpuk di wajah para bangsawan, para selir, dan keluarga kerajaan yang dipaksa meninggalkan Istana dengan kepala penuh pertanyaan serta rasa dingin yang merayap sampai ke tulang.

Satu per satu kereta kuda meninggalkan halaman Istana Kaisar, membawa pergi para tamu dengan bisikan yang tak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 263. Isabella Ketahuan?

    Di atas meja batu, asap tipis membumbung dari cangkir susu jahe yang pedas-manis, menemani piring berisi bakpao daging yang masih mengepulkan uap hangat. Denada menyesap minumannya perlahan, merasakan panas jahe menjalar ke kerongkongannya, mencoba mengusir sisa-sisa rasa dingin yang seolah telah mengerak di tulang-tulangnya. Cucu, di sisi lain, tampak sangat menikmati suasananya. Ia memakan bakpao dengan lahap, pipinya menggembung lucu sementara ia terus mengoceh tentang betapa empuknya adonan tepung tersebut. Sesekali Denada tersenyum tipis melihat tingkah pelayan setianya itu. Baginya, momen sederhana seperti ini adalah kemewahan langka di tengah badai intrik yang mengepung hidupnya. Namun, suasana santai itu tidak menular pada Althaf Rumi. Ksatria itu tetap berdiri tegak di luar Gazebo, punggungnya lurus seperti tombak, dan tangannya tidak pernah lepas dari gagang pedang. Ia menolak dengan sopan saat Denada menawarinya susu jahe, lebih memilih untuk tetap menjadi patung

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 262. Jejak di Atas Pualam Putih

    Denada melangkah perlahan menyusuri jalan setapak taman istana yang sudah dibersihkan dari tumpukan salju semalam. Di belakangnya, Althaf Rumi mengikuti dengan jarak yang sangat terukur. Pria itu bergerak dengan efisiensi seorang prajurit sejati, tidak ada suara gesekan zirah yang berlebihan, tidak ada langkah kaki yang ceroboh. Althaf benar-benar menyerupai sebuah robot atau patung hidup yang hanya memiliki satu fungsi: melindungi tanpa suara.Kehadiran Althaf yang begitu kaku terkadang membuat Denada merasa canggung, namun di sisi lain, ada stabilitas yang tidak pernah ia rasakan dari pengawal Alon yang lain. Ksatria ini tidak menatapnya dengan pandangan merendahkan atau penuh nafsu terselubung. Althaf hanya... ada di sana.Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah gazebo tua yang terletak di sudut paling terpencil di taman belakang Harem. Gazebo itu terbuat dari kayu hitam yang dipoles hingga mengilap, dikelilingi oleh barisan pohon plum yang mulai menampakkan kuncup-kuncup bunga

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 261. Permaisurimu Satu-Satunya

    "Maafkan aku," ucap Arthur pelan, suaranya parau dan sedikit pecah. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang entah mengapa terasa lebih sulit dicari daripada saat memimpin ribuan pasukan. "Alih-alih datang untuk meminta maaf padamu dengan benar, aku justru meledak marah dan membentakmu semalam. Maafkan aku, Diana. Saat itu... aku merasa bingung dan sangat marah pada diriku sendiri, juga padamu."Arthur berhenti sejenak, lalu mendongak sedikit untuk melirik reaksi Diana, meski ia segera menunduk kembali saat melihat ketenangan wajah istrinya. "Menurutku, seharusnya kau merasa senang atau setidaknya sedikit bangga karena aku berusaha menghindari mereka mati-matian hanya untuk menjaga kesetiaanku padamu. Namun, responmu yang justru memarahiku dan menganggap tindakanku ceroboh... itu membuatku berpikir bahwa kau tidak lagi memedulikanku. Aku berpikir jika kau tidak mencintaiku lagi, maka kau tidak akan keberatan mengirimku ke ranjang wanita lain sesering mungkin."Di

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 260. Kewajiban Petinggi dan Suami

    Aroma teh melati yang mengepul hangat dari cangkir porselen di tangan Diana seharusnya mampu memberikan ketenangan, namun suasana di paviliun pagi itu justru terasa gerah karena tumpahan emosi yang belum juga mereda. Di hadapannya, Rany masih mengoceh tanpa henti. Mantan kepala penjaga bayangan pribadinya itu, yang kini telah menjadi nyonya rumah dari kediaman Jenderal Sai, tampak benar-benar meledak. Ia menceritakan setiap detail kabar burung yang sampai ke telinganya, menyeka sudut matanya yang kering namun penuh amarah, dan sesekali memukul meja kecil di sampingnya untuk menekankan betapa hancurnya martabatnya sebagai seorang istri.Diana menyesap tehnya dengan tenang, matanya menatap permukaan air yang jernih sembari mendengarkan ocehan Rany. Ia tidak menyela, sebab ia tahu Rany hanya butuh wadah untuk mengeluarkan racun di hatinya. Namun, jauh di lubuk hati Diana, ia pun merasakan denyut pening yang serupa. Para pria di sekelilingnya benar-benar sedang berada di fase yang san

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 259. Takut Istri

    Embun berdiri di belakang Diana, jemarinya yang lincah bergerak pelan menyisir rambut panjang Diana yang sehalus sutra. Suasana pagi itu sangat sunyi, hanya terdengar suara gesekan sisir dan derak perapian yang mulai meredup."Apa ada kabar mengenai Kaisar semalam?" tanya Diana tiba-tiba. Suaranya tenang, namun Embun bisa menangkap nada kecemasan yang tersembunyi di baliknya.Tangan Embun sempat terhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan tugasnya. Ia melirik wajah majikannya dari cermin, lalu menjawab dengan suara rendah. "Hamba... hamba mendengar kabar dari para kasim jaga, Yang Mulia. Bahwa semalam Yang Mulia Kaisar tidak kembali ke paviliun mana pun. Beliau bermalam di ruang kerjanya bersama Tuan Sai."Diana mengerutkan keningnya, alisnya yang tipis tertaut. "Tuan Sai?""Benar, Yang Mulia," Embun mengangguk pelan. "Laporannya, keduanya menghabiskan sepanjang malam dengan minum-minum sampai mabuk berat. Kabarnya, ruang kerja Kaisar saat ini dipenuhi aroma anggur yang sangat taja

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 258. Cahaya Kembang Api di Atas Salju Kelabu

    Denada dengan cepat menarik dirinya menjauh, gerakannya hampir terlihat panik. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena romansa, melainkan karena rasa terkejut yang belum sepenuhnya reda. Di istana ini, sentuhan pria biasanya berarti ancaman atau penghinaan, namun pria itu melakukannya dengan penghormatan yang sangat murni.Wajah Denada memerah padam, sebuah rona yang jarang muncul di kulit pucatnya yang biasanya sedingin salju. Tanpa menatap mata ksatria itu kembali, ia menggumamkan terima kasih yang nyaris tak terdengar, lalu buru-buru menaiki tandu kebesarannya. Begitu pintu tandu tertutup rapat, Denada menyandarkan punggungnya pada bantalan sutra, mencoba mengatur napasnya yang memburu."Jalan," perintah Denada dari dalam, suaranya kembali datar dan berwibawa.Tandu itu pun diangkat oleh para pengangkut yang kuat, mulai bergerak perlahan melintasi pelataran istana yang kini mulai memutih tertutup salju. Di dalam ruang sempit yang hanya diterangi oleh lampion kecil itu, Denad

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 99. Rumor, Krim Kecantikan, dan Dukungan yang Tak Terduga

    Kediaman Diana hari itu tampak jauh lebih sibuk dibandingkan biasanya. Sejak pagi buta, aroma herbal memenuhi hampir setiap sudut halaman dalam, bercampur dengan wangi bunga kering dan minyak alami yang sedang dipanaskan perlahan. Setelah memastikan obat-obatan untuk Pangeran

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 105. Gulungan Darah

    Istana Harsa diselimuti keheningan yang berat ketika mereka tiba. Tidak ada musik, tidak ada tawa pelayan, bahkan langkah kaki pun terdengar samar seolah semua orang di dalam istana itu sengaja menahan napas. Duka masih menggantung pekat, bercampur dengan rasa malu dan kemarahan yang belum menemu

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 101. Bayang-Bayang di Balik Dinding Istana

    Diana duduk tenang di balik meja kayu cendana yang permukaannya dipenuhi lembaran kertas, buku catatan tebal, dan beberapa papan kayu tipis bertuliskan angka-angka pengeluaran. Sinar matahari sore menembus kisi jendela tinggi, jatuh tepat di ujung jemarinya yang sedang memegang kuas kecil, sesekal

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 97. Mimpi Api di Balik Takhta

    “Anak pembawa sial, Permaisuri meninggal karenanya!”“Untuk apa diperhatikan? Apa Kaisar benar-benar akan mempertahankan gelar Putra Mahkota miliknya? Kekaisaran kita hanya akan ditertawakan pihak luar jika memiliki Kaisar berwajah cacat sepertinya!”“Kau, gunakan obat ini pada wajahnya. Jangan sam

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status