Bangunan kayu itu berdiri sunyi di tengah hutan, sederhana dan nyaris tak mencolok jika tidak tahu keberadaannya. Dindingnya terbuat dari papan kayu tua yang tersusun rapi, atapnya rendah, dan hanya ada satu lentera kecil yang tergantung di depan pintu, memancarkan cahaya kuning temaram. Tempat itu bukan Istana, bukan pula paviliun bangsawan, melainkan salah satu bangunan rahasia yang hanya diketahui segelintir orang—jalur penghubung sunyi antara Istana utama dan Istana Putra Mahkota. Diana membawanya ke sini dengan langkah tenang, seolah malam berdarah yang baru saja terjadi hanyalah angin lalu. Karin duduk di atas dipan kayu sederhana, selimut tipis melingkari tubuhnya. Wajahnya pucat, matanya sembab dan kosong, seperti seseorang yang jiwanya belum sepenuhnya kembali ke raga. Diana berdiri di depannya, mengompres kening Karin yang memar dengan kain basah, gerakannya lembut namun cekatan. “Sedikit perih,” ucap Diana datar. Karin mengangguk lemah. Ia bahkan nyaris t
Terakhir Diperbarui : 2026-02-13 Baca selengkapnya