Mag-log inRoda kereta berputar perlahan meninggalkan pelataran utama Istana Kaisar.
Langit sore tampak pucat, seolah warna-warnanya ikut tersapu oleh kabar yang baru saja menyebar di seluruh penjuru Ibu Kota.Di dalam kereta, Diana duduk tegak dengan tangan terlipat rapi di pangkuannya.Wajahnya tenang, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu menggoyahkan ketenangannya.Namun dari balik tirai tipis, suara para pelayan yang berjalan beriringan terdengDi atas balkon utama Istana Agung, genderang ditabuh dengan irama yang menggetarkan dada, suaranya bertalu-talu menyerukan keagungan sebuah kekaisaran yang tak tertandingi. Di sepanjang selasar dan menara-menara pengawas, bendera emas Norvenia berkibar dengan gagah, menari berdampingan dengan bendera biru laut bergambar elang perak milik Kerajaan Mora. Perpaduan warna itu menjadi simbol sebuah pertemuan besar yang telah lama dinantikan oleh daratan dan laut.Diana Sinclair berdiri dengan tegak, meskipun berat kandungannya yang kian membesar mulai memberikan tekanan pada punggungnya. Ia mengenakan jubah permaisuri yang sangat megah, terbuat dari sutra terbaik dengan sulaman benang emas yang membentuk motif Phoenix yang sedang mengepakkan sayap. Di sampingnya, Arthur berdiri seperti pilar baja, mengenakan pakaian kaisar yang serba hitam dengan aksen perak, memancarkan aura dominasi yang mampu membungkam ribuan prajurit hanya dengan satu tatapan.Arthur, yan
"Yang Mulia! Apa yang terjadi pada Anda?!" suara Althaf bergetar, sebuah retakan langka dalam topeng datarnya yang dingin.Denada tidak segera menjawab. Ia membiarkan napasnya tersengal, pundaknya berguncang pelan seolah menahan isak tangis yang menyesakkan. Bibirnya yang bergetar hanya menggumamkan satu kata yang cukup untuk meledakkan sumbu amarah di dalam diri Althaf."Ayah..." gumam Denada lirih, hampir tak terdengar di antara deru angin yang menyelinap dari celah jendela.Mendengar kata itu, pikiran Althaf langsung berputar cepat seperti pusaran badai. Ingatannya kembali pada beberapa menit yang lalu, saat ia melihat sosok Raja Debi keluar dari paviliun ini dengan langkah terburu-buru dan raut wajah yang sangat buruk—penuh amarah yang tertahan dan kegelapan yang mengancam. Althaf menatap lebam kebiruan yang mulai muncul di pipi pucat Denada. Luka itu tampak begitu kontras, begitu menyakitkan untuk dipandang.Apakah pria itu penyebabnya? Apakah Raja Deb
Denada duduk dengan tenang di kursi jatinya. Jemarinya yang ramping memegang cangkir porselen, menyesap teh yang sudah mendingin dengan perlahan. Ekspresinya datar, seolah-olah ia adalah bagian dari ornamen ruangan yang mati. Namun, di balik ketenangan itu, otaknya sedang memutar roda pengkhianatan yang kian cepat.Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dengan sentakan keras. Sosok Raja Debi muncul di ambang pintu, napasnya memburu dan wajahnya tampak tegang di bawah cahaya lampion koridor. Ia melangkah masuk tanpa menunggu undangan, matanya menyapu ruangan dengan penuh kecurigaan sebelum tertuju pada putri angkatnya."Ada apa kau memanggilku secara mendadak begini, Denada?" tanya Raja Debi dengan suara rendah yang ditekan. "Apa ada pergerakan mencurigakan dari Kaisar? Katakan padaku!"Denada tidak segera menjawab. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan bunyi denting yang halus, lalu mendongak menatap Raja Debi. Seketika, ia mengubah sorot matanya. Kedinginan yang tadi terpanc
Di dalam ruang kerja utama istana, lilin-lilin besar menyala temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding pualam. Alon duduk di balik meja besarnya yang terbuat dari kayu jati hitam berukir naga, wajahnya tampak kaku dan lelah. Di depannya berserakan tumpukan dokumen negara yang seolah tak ada habisnya, namun pikirannya tidak tertuju pada laporan pajak atau persediaan pangan. Fokusnya sedang terpecah oleh berita kedatangan delegasi dari Kerajaan Mora yang kini telah menempati paviliun tamu agung.Alon menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Kedatangan Mora seharusnya menjadi momen diplomatik yang gemilang, namun di balik itu, ia merasakan adanya ancaman yang merayap di bawah permukaan. Terutama setelah ia mencurigai adanya pergerakan bawah tanah dari pihak-pihak yang dulu setuju untuk bersekutu dengannya, namun kini mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan."Yang Mulia... Yang Mulia Permaisuri meminta izin untuk masuk."Sua
Diana duduk dengan tenang di kursi cendana yang telah dipersiapkan, tangannya yang halus bertumpu pada perutnya yang membusung, memberikan kesan sebagai seorang ibu yang penuh kedamaian. Namun, sepasang mata birunya yang jernih menyapu pemandangan di tengah ruangan dengan ketajaman yang mampu menusuk hingga ke tulang belakang.Di sana, di atas lantai marmer yang dingin, Selina Agupta bersama dua rekan setianya masih bersujud. Tubuh mereka gemetar hebat, seolah-olah hawa dingin musim dingin telah meresap ke dalam sumsum tulang mereka. Selina, yang tadi begitu berani melempar hasutan beracun, kini hanya bisa menatap pola marmer di bawah dahinya. Wajahnya pucat pasi, dan buku-buku jarinya memutih saking kerasnya ia mengepalkan tangan di balik lengan bajunya. Ia telah terjebak, ia meremehkan ikatan antara Permaisuri dan Ibu Suri, dan kini ia merasa seolah-olah sedang berdiri di tepi jurang eksekusi."Ada apa ini?" tanya Diana dengan suara yang lembut dan merdu, seolah-olah ia benar-b
Suara dentingan kecapi yang lembut mengalun di udara Istana Ibu Suri Karin, menyusup di antara pilar-pilar giok yang megah dan tirai sutra yang berkibar pelan tertiup angin musim dingin. Aroma dupa kayu gaharu yang mahal memenuhi ruangan, memberikan kesan ketenangan yang semu. Di kursi utama yang beralaskan beludru merah, Karin duduk dengan keanggunan seorang wanita yang telah melewati badai kekuasaan. Di samping kanannya, terdapat sebuah kursi kayu cendana yang diukir dengan motif Phoenix, letaknya sedikit lebih rendah dari kursi miliknya, namun tetap menunjukkan kedudukan istimewa. Itulah kursi yang dipersiapkan khusus untuk Diana, Sang Permaisuri, yang kehadirannya tengah dinanti.Di hadapan Karin, para selir dari berbagai tingkatan duduk dengan rapi di meja-meja panjang yang saling berhadapan. Di atas meja mereka tersaji berbagai macam manisan, buah-buahan segar, dan teh kualitas terbaik. Namun, kecantikan wajah-wajah di ruangan itu tidak sepenuhnya mencerminkan ketenangan h
Diana menarik napas dalam, dadanya naik turun cepat seperti baru saja berlari jauh. Jantungnya berdegup keras, mengalahkan suara angin yang berhembus lembut dari celah jendela. Kedua matanya terbuka seketika—lebar, tajam, penuh keterkejutan yang bahkan belum sempat
Diana mengerjap beberapa kali begitu kereta berhenti tepat di halaman depan kediaman keluarga Sinclair. Udara sore yang hangat seolah menampar wajahnya, tetapi bahkan hembusan angin pun tidak mampu menyapu rasa keterkejutannya.Sebab pemandangan di hadapannya... benar-benar tidak masuk akal.Peti-
Arthur membuka kedua matanya perlahan, napasnya masih berat dan terputus-putus. Cahaya lembut dari jendela menerpa dinding kamar, membiaskan bayangan halus yang bergeser pelan setiap kali angin dingin malam menerobos celah tirai. Helaan napas laki-laki itu terdengar kasar, tenggorokannya kering s
Keheningan aneh menyelimuti ruangan ketika Arthur kembali berdiri. Suara gesekan kursi yang ditarik pelayan barusan masih terasa menggantung di udara, seakan enggan menghilang dari ingatan siapa pun yang mendengarnya. Pelayan yang tadi tergopoh-gopoh datang kini berdiri kaku di sudut ruangan, men







